LUMAJANG, DetikNusantara.co.id – Dalam rangka melestarikan warisan leluhur, Paguyuban Aryawiraraja menggelar pameran benda pusaka yang megah di Pendopo Aryawiraraja, Kabupaten Lumajang. Acara ini menampilkan ribuan koleksi benda pusaka milik warga lokal hingga kolektor mancanegara yang menarik perhatian masyarakat luas.
Ketua Paguyuban Aryawiraraja, Musholli, menjelaskan bahwa pameran ini merupakan bagian dari rangkaian perayaan Hari Jadi Lumajang (Harjalu) ke-770. Selain sebagai seremoni tahunan, kegiatan ini menjadi wadah mempererat silaturahmi bagi para pelestari dan pecinta benda bertuah.
“Pameran ini bukan sekadar kemeriahan Harjalu ke-770, melainkan ruang temu bagi para kolektor pusaka dari dalam maupun luar kota untuk saling berbagi wawasan,” ungkap Musholli saat ditemui di lokasi acara.
Ia menegaskan pentingnya edukasi bagi generasi muda agar seni, budaya, dan sejarah nusantara tidak tergerus oleh arus modernisasi dan kemajuan teknologi.
Salah satu daya tarik utama dalam pameran ini adalah kehadiran Golok Empu Sanibin. Dhika, salah seorang kolektor, mengungkapkan bahwa Lumajang memiliki identitas pusaka yang kuat melalui karya Empu Sanibin, maestro benda pusaka asal Kecamatan Kunir.
“Pusaka karya Empu Sanibin memiliki ciri khas pada bentuk golok dengan pamor yang sangat indah. Ini sudah diakui secara luas sebagai pusaka otentik dari wilayah Kunir, Lumajang,” jelas Dhika.
Lebih lanjut, Dhika memaparkan bahwa karya tersebut mengandung nilai filosofis dan tuah yang mendalam. Sebagai bentuk penghormatan, golok tersebut diserahkan secara simbolis kepada Bupati dan Wakil Bupati Lumajang sebagai tanda pembukaan pameran.
Keberhasilan acara ini tidak lepas dari sinergi antara komunitas dan pemerintah daerah. Paguyuban Aryawiraraja menyampaikan apresiasi mendalam kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lumajang atas fasilitas dan dukungan yang diberikan.
“Kami sangat berterima kasih kepada Pemkab Lumajang. Kami berharap pengunjung yang hadir dapat memetik pelajaran berharga serta ikut menjaga nilai-nilai luhur warisan nenek moyang kita,” tutup Musholli.



