SUMENEP, DetikNusantara.co.id – Kedatangan kapal tanker pengangkut Bahan Bakar Minyak (BBM) milik Pertamina di Kepulauan Kangean, Sumenep, belum sepenuhnya melerai kepanikan warga. Pantauan di lapangan pada Selasa (7/4/2026) sore, antrean warga di sejumlah pengecer justru terpantau membludak.
Berdasarkan pantauan tim media sekitar pukul 16.30 WIB, puluhan warga tampak memadati jalan-jalan desa. Dengan mengendarai sepeda motor, mereka rela mengantre berjam-jam demi mengamankan stok BBM untuk kebutuhan mobilitas harian.
Menariknya, lonjakan antrean ini terjadi sesaat setelah pasokan BBM tiba di dermaga Kangean. Bukannya merasa tenang, warga justru berbondong-bondong menyerbu pengecer, khususnya untuk mendapatkan BBM jenis Pertalite. Fenomena ini dipicu oleh kekhawatiran masyarakat akan terjadinya kembali kelangkaan stok dalam waktu dekat.
“Walaupun kapal sudah datang, tetap saja harus antre panjang. Kami takut nanti habis lagi dalam waktu cepat,” ungkap Roby, salah satu warga setempat yang ikut mengantre sejak siang.
Meski terjadi penumpukan permintaan, harga BBM di tingkat pengecer terpantau masih berada dalam batas stabil dan belum menunjukkan tanda-tanda kenaikan harga yang signifikan.
Kondisi di lapangan menunjukkan bahwa distribusi BBM di wilayah Kepulauan Kangean masih menyisakan persoalan. Ketergantungan masyarakat terhadap pengecer dinilai sebagai akibat dari belum meratanya akses distribusi resmi ke pelosok pulau.
Ironisnya, di tengah kerumunan massa yang berpotensi menimbulkan gangguan ketertiban, tidak terlihat adanya pengamanan atau kehadiran unsur Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimka) di lokasi-lokasi strategis pengecer.
Minimnya pengawasan ini dikeluhkan warga karena dianggap memberi peluang bagi oknum tertentu untuk melakukan penimbunan atau menyebabkan distribusi yang tidak merata.
Sebelumnya, isu kelangkaan BBM di Kangean sempat memicu spekulasi terkait adanya penimbunan. Menanggapi hal itu, Forkopimka Arjasa sebenarnya telah melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke beberapa titik.
Namun, masyarakat berharap langkah nyata pemerintah daerah tidak berhenti pada sidak semata. Warga mendesak adanya pengaturan distribusi yang lebih sistematis agar aliran BBM dari kapal tanker hingga ke tangan konsumen dapat berjalan tertib tanpa perlu terjadi antrean yang mengular.













