PROBOLINGGO, DetikNusantara.co.id – Material pasir yang bercampur tanah diduga digunakan dalam pembangunan Tembok Penahan Tanah (TPT) di Dusun Keloran, Desa Patemon, Kecamatan Krejengan, Kabupaten Probolinggo. Kondisi material yang terlihat berwarna kecokelatan tersebut memunculkan pertanyaan mengenai kualitas bahan konstruksi yang digunakan dalam proyek senilai Rp150 juta itu.
Pantauan media ini di lokasi pada Senin (12/10/2026) siang, aktivitas pembangunan TPT masih berlangsung. Di tengah proses pengerjaan, material yang diduga merupakan campuran pasir dan tanah terlihat digunakan untuk membangun tembok penahan tanah tersebut.
Penggunaan material itu menjadi sorotan karena kualitas bahan konstruksi merupakan salah satu faktor penting dalam menentukan kekuatan dan ketahanan bangunan. Namun, untuk memastikan apakah material tersebut sesuai atau tidak dengan spesifikasi teknis proyek, diperlukan pemeriksaan lebih lanjut oleh tenaga ahli atau instansi yang berwenang.
Salah seorang pekerja bernama Lukman mengaku tidak mengetahui secara pasti kualitas material yang didatangkan ke lokasi pekerjaan.
“Kami kurang tahu, karena hanya pekerja. Bahan yang datang hanya ini,” kata Lukman.
Selain material pasir yang diduga bercampur tanah, penggunaan semen dalam pembangunan TPT tersebut juga menjadi perhatian.
Seorang pekerja yang enggan disebutkan namanya mengatakan bahwa target penggunaan semen dalam sehari mencapai 10 sak. Namun, menurut pengakuannya, jumlah tersebut terkadang tidak terpenuhi.
“Target sehari 10 sak. Namun, kadang tidak sampai,” ujarnya.
Berdasarkan perkiraan pantauan di lapangan, progres pembangunan TPT disebut telah mencapai sekitar 50 persen. Sementara itu, penggunaan semen diperkirakan masih belum mencapai 20 sak.
Meski demikian, jumlah kebutuhan semen yang seharusnya digunakan tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan pengamatan di lokasi. Diperlukan pemeriksaan dokumen perencanaan, volume pekerjaan, serta spesifikasi teknis untuk mengetahui kesesuaian penggunaan material dengan pekerjaan yang telah dilaksanakan.
Pembangunan TPT di Dusun Keloran tersebut memiliki volume panjang sekitar 51 meter dengan anggaran Rp150 juta yang bersumber dari Bantuan Keuangan (BK) Provinsi Jawa Timur Tahun Anggaran 2026.
Nilai anggaran tersebut menjadi perhatian warga yang mempertanyakan kesesuaian antara biaya pembangunan dan kondisi pekerjaan yang terlihat di lapangan.
Salah seorang warga Kecamatan Krejengan berinisial MZ menilai kualitas pekerjaan tersebut perlu mendapat perhatian serius. Ia khawatir material yang digunakan dapat memengaruhi ketahanan bangunan.
“Pekerjaannya dibilang asal-asalan, ya iya. Dibilang tidak, bangunannya memang ada. Tetapi saya yakin TPT ini tidak akan bertahan dua tahun dan pasti sudah rusak,” kata MZ.
Pernyataan tersebut merupakan penilaian warga dan belum menjadi kesimpulan teknis mengenai kualitas maupun umur bangunan. Kepastian mengenai kekuatan TPT perlu didasarkan pada hasil pemeriksaan konstruksi oleh pihak yang kompeten.
MZ berharap pihak berwenang segera melakukan pengecekan langsung terhadap pembangunan TPT tersebut. Menurutnya, pengawasan diperlukan untuk memastikan penggunaan anggaran publik sesuai dengan perencanaan dan ketentuan yang berlaku.
“Antara anggaran dan pekerjaan sangat jomplang. Kami berharap pembangunan semacam ini perlu ada pengawasan, bahkan penindakan jika ditemukan pelanggaran. Pembangunan yang menggunakan uang rakyat seperti ini harus diawasi secara ketat. APH, kejaksaan, atau inspektorat harus turun,” tegasnya.
Ia juga meminta agar material pasir yang diduga bercampur tanah diperiksa untuk memastikan kelayakannya sebagai bahan konstruksi. Pemeriksaan tersebut dinilai penting agar kualitas bangunan tidak hanya terlihat secara fisik, tetapi juga memenuhi persyaratan teknis.
Hingga berita ini ditulis, belum ada hasil pemeriksaan teknis yang memastikan apakah material yang digunakan dalam pembangunan TPT tersebut telah sesuai dengan spesifikasi proyek.
Klarifikasi dari pihak pelaksana kegiatan dan instansi terkait diperlukan untuk menjelaskan kualitas material, penggunaan semen, serta kesesuaian pekerjaan dengan anggaran yang telah dialokasikan.
Masyarakat berharap pembangunan TPT di Desa Patemon dapat menghasilkan infrastruktur yang kuat, aman, dan tahan lama, sehingga manfaat anggaran pemerintah benar-benar dirasakan oleh masyarakat.













