Categories: Berita

Cerita Haru 2 Dokter UB yang Baru Pulang dari Gaza

DetikNusantara.co.id – Dua dokter dari Universitas Brawijaya (UB), Dr. dr. Mohammad Kuntadi Syamsul Hidayat, M.Kes., MMR., Sp.OT, dan Dr. dr. Ristiawan Muji Laksono, Sp.An-TI, Subsp.M.N.(K), FIPP, kembali ke tanah air usai menjalankan misi kemanusiaan di Gaza, Palestina, selama hampir tiga pekan. Kepulangan mereka ke Indonesia membawa pesan kuat tentang nilai kemanusiaan dan dedikasi profesi di tengah situasi konflik berkepanjangan.

Keduanya tergabung dalam tim relawan Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) yang berkolaborasi dengan organisasi internasional Rahmah Worldwide. Selama di Gaza, mereka bertugas di dua rumah sakit yang masih beroperasi, yakni Rumah Sakit An-Nasr dan Rumah Sakit Eropa.

Pengalaman yang dibagikan kedua dokter menggambarkan kondisi nyata krisis kemanusiaan di Gaza. dr. Kuntadi menyampaikan bahwa selama lebih dari 30 tahun berpraktik sebagai dokter, belum pernah ia menyaksikan kondisi separah yang ia lihat di Palestina.

“Anak-anak tergeletak di lantai, bersimbah darah, tanpa asupan gizi memadai. Mereka bernapas tersengal tanpa perawatan medis layak,” ujarnya saat diwawancara usai kepulangan.

Salah satu peristiwa paling menyayat hati bagi Dr. Kuntadi adalah ketika ia harus menangani seorang bayi perempuan yang belum genap dua tahun dan terkena peluru. Situasi tersebut terjadi di tengah keterbatasan fasilitas dan peralatan medis yang sangat minim.

Sepanjang misi, mereka hampir tidak pernah meninggalkan area rumah sakit karena tingginya risiko keamanan. Ancaman sniper dan pembatasan komunikasi membuat mereka harus ekstra waspada. Mengambil foto atau membuka ponsel saja dianggap berisiko tinggi.

“Selama dua minggu di Gaza, kami tidak pernah keluar rumah sakit. Semua aktivitas kami selalu diawasi dan dijaga ketat,” ujar dr. Kuntadi.

Keputusan untuk berangkat ke Gaza bukanlah hal impulsif. Menurut dr. Kuntadi, keinginan untuk terlibat dalam misi kemanusiaan di Palestina telah tumbuh sejak lama. Ketika kesempatan itu datang, ia menerimanya dengan mantap, meski belum sempat meminta izin keluarga.

“Kematian sudah ditentukan. Kenapa harus takut? Takdir kita sudah tertulis sebelum lahir,” ucapnya.

Sementara itu, dr. Ristiawan menjelaskan lonjakan pasien di rumah sakit Gaza mencapai lebih dari 250 persen dari kapasitas normal. Banyak fasilitas rusak akibat serangan bom, termasuk ruang hemodialisis, sehingga pelayanan medis dilakukan di tenda-tenda darurat di sekitar rumah sakit.

“Obat-obatan terbatas, alat anestesi hanya tersedia jenis lama, air bersih pun sulit. Standar medis seperti yang biasa kami jalankan di Indonesia tidak bisa diterapkan sepenuhnya di sana,” jelasnya.

Dr. Ristiawan juga menceritakan kondisi para tenaga medis lokal yang turut terdampak krisis pangan. Bahkan, ia menyaksikan langsung seorang dokter pingsan karena tidak makan selama dua hari.

“Dokter di sana sampai harus diinfus. Anaknya menangis semalaman karena lapar. Pernah satu permen Kopiko kami bagi, dan mereka menerimanya dengan syukur luar biasa,” kenangnya.

Keduanya menekankan bahwa bantuan kemanusiaan tidak selalu berbentuk materi. Kehadiran fisik, doa, dan empati pun bisa menjadi bentuk dukungan besar bagi masyarakat yang terdampak krisis berkepanjangan.

Kepulangan dua dokter ini mendapat sambutan hangat dari sivitas akademika Universitas Brawijaya. Bagi UB, kembalinya dr. Kuntadi dan dr. Ristiawan bukan hanya membawa kisah kemanusiaan, tetapi juga mencerminkan peran nyata dunia akademik dalam merespons isu global.

Redaksi

Recent Posts

Apakah Uang yang Dikembalikan Tersangka Korupsi Bisa Ditarik Kembali Jika Penyidikan Dihentikan (SP3)?

DETIKNUSANTARA.CO.ID - Ada soalan: Seseorang telah ditetapkan sebagai tersangka berdasarkan Pasal 603 dan 604 KUHP.…

2 hari ago

Dilema Delik Pengancaman: Bedah Unsur Pasal 483 KUHP dalam Transaksi ‘Take Down’ Berita oleh Oknum Jurnalis

DETIKNUSANTARA.CO.ID - Ada rumusan Kasus: Seorang individu meminta kepada seorang oknum jurnalis untuk menurunkan (take…

2 hari ago

Logika Kalender Hijriah: Bahaya di Balik Sikap Tidak Konsisten Memilih Awal dan Akhir Ramadan

DETIKNUSANTARA.CO.ID - Ada sebuah soalan: apakah boleh seseorang mengawali puasa mengikuti keputusan pemerintah (1 Ramadan…

2 hari ago

Kisah Pilu Nada, Balita di Probolinggo Pejuang Atresia Bilier yang Butuh Uluran Tangan

PROBOLINGGO, DetikNusantara.co.id – Di sebuah rumah sederhana di Dusun Krajan 1, Desa Sumberan, Kecamatan Besuk,…

3 hari ago

Pastikan Listrik Idul Fitri 1447 H Aman, PLN NP UP Paiton Gelar Apel Kesiapsiagaan

PROBOLINGGO, DetikNusantara.co.id — Menjelang perayaan Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah, PT PLN Nusantara Power…

4 hari ago

Aksi Sosial di Exit Tol Leces: Wartawan dan Aktivis Probolinggo Bantu Sopir Truk Asal Jember

PROBOLINGGO, DetikNusantara.co.id – Kepedulian terhadap sesama ditunjukkan oleh Komunitas Media Siber Probolinggo (KOMSIPRO) dan aktivis…

4 hari ago