Peristiwa

Diduga Terhambat Bangunan Milik Kades, Puluhan Rumah di Lemah Kembar Probolinggo Terendam Banjir Parah

×

Diduga Terhambat Bangunan Milik Kades, Puluhan Rumah di Lemah Kembar Probolinggo Terendam Banjir Parah

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

PROBOLINGGO, DetikNusantara.co.id – Puluhan rumah warga di Dusun Bibis, Desa Lemah Kembar, Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo, terendam banjir luapan sungai pada Sabtu (10/1/2026). Banjir kali ini disebut sebagai yang terparah, diduga akibat adanya bangunan Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) milik Kepala Desa setempat yang menutup akses air.

Berdasarkan pantauan video yang diterima redaksi, ketinggian air di pemukiman warga mencapai setinggi perut orang dewasa. Kondisi ini membuat aktivitas warga lumpuh total, bahkan seorang warga yang tengah sakit terpaksa dievakuasi menggunakan perahu untuk mendapatkan pengobatan.

Dalam rekaman tersebut, tampak kemarahan warga yang dipicu oleh buntunya aliran air sungai. Salah satu warga berinisial R mengungkapkan bahwa meski wilayahnya merupakan langganan banjir, kondisi tahun ini jauh lebih buruk karena adanya pembangunan Dapur MBG.

“Biasanya memang banjir, Mas, tapi tidak pernah separah ini. Air sungai tidak bisa mengalir lancar karena jalurnya tertutup pembangunan Dapur MBG milik Pak Kades,” ujar R dengan nada geram.

Menurut warga, sejak akses pembuangan air tersebut ditutup, genangan air menjadi sulit surut. Puncaknya, pada Sabtu malam, massa yang emosi akhirnya membongkar paksa akses jalan menuju Dapur MBG tersebut agar air dapat mengalir dan surut dari rumah warga.

“Akhirnya tadi malam warga terpaksa membongkar bendungan itu secara mandiri supaya air tidak terus masuk ke rumah-rumah,” tambahnya.

Akibat dari banjir tersebut menimbulkan banyak kerugian warga diantaranya hewan ternak milik warga mati dan barang-barang elektronik lainnya rusak karena tidak sempat di evakuasi.

Di sisi lain, Kepala Desa Lemah Kembar, Hariyanto, memberikan klarifikasi terkait musibah tersebut. Menurutnya, penyebab utama banjir bukanlah bangunan Dapur MBG, melainkan kondisi pelengsengan (dinding penahan tanah) sungai yang masih rendah.

“Wilayah itu memang setiap tahun banjir karena posisi pelengsengannya lebih rendah dari debit air sungai saat hujan lebat,” jelas Hariyanto.

Ia menambahkan bahwa pihak Pemerintah Desa (Pemdes) sebenarnya telah berupaya melakukan mitigasi dengan membangun pelengsengan sepanjang 300 meter. Namun, masih terdapat kekurangan sekitar 200 meter lagi untuk memastikan wilayah tersebut benar-benar aman dari luapan sungai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *