Berita

Kisah Pilu Nada, Balita di Probolinggo Pejuang Atresia Bilier yang Butuh Uluran Tangan

×

Kisah Pilu Nada, Balita di Probolinggo Pejuang Atresia Bilier yang Butuh Uluran Tangan

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

PROBOLINGGO, DetikNusantara.co.id – Di sebuah rumah sederhana di Dusun Krajan 1, Desa Sumberan, Kecamatan Besuk, Kabupaten Probolinggo, seorang balita perempuan bernama Nada Putri Masruri tengah berjuang melawan takdir. Di usianya yang baru menginjak tiga tahun, Nada harus menghadapi komplikasi penyakit langka yang mengancam nyawanya.

Nada didiagnosis menderita Atresia Bilier, sebuah kelainan langka di mana saluran empedu tidak terbentuk dengan normal, menyebabkan cairan empedu menumpuk dan merusak organ hati (sirosis). Tak hanya itu, Nada juga terlahir dengan kelainan jantung bawaan jenis ASD Secundum.

Kondisi kesehatan Nada sudah memprihatinkan sejak bayi. Pada usia 95 hari, ia sempat menjalani operasi Kasaisebagai langkah penyelamatan awal. Sayangnya, prosedur tersebut dinyatakan gagal karena kadar bilirubin dalam tubuhnya tetap tinggi.

Kini, hari-hari Nada diwarnai dengan:

  • Infeksi berulang dan demam tinggi.
  • Gejala klinis yang berat: Perut membesar (asites), kulit menggelap, gatal-gatal hebat, hingga muntah darah.
  • Keterbatasan fisik: Di usia tiga tahun, Nada belum mampu berjalan sendiri akibat kondisi fisiknya yang terus menurun.

“Dia sebenarnya anak yang kuat. Kalau mau tindakan medis, dia seperti mengerti. Tetap menangis, tapi tidak pernah mempersulit,” ungkap sang ibu, Siti Aisyah, dengan nada tegar.

Satu-satunya jalan untuk menyelamatkan nyawa Nada adalah melalui transplantasi hati. Namun, prosedur medis ini membutuhkan biaya hingga ratusan juta rupiah angka yang mustahil dijangkau oleh kedua orang tuanya.

Ayah Nada, M. As’ad, merupakan seorang tenaga honorer dengan penghasilan Rp1 juta per bulan. Sementara ibunya, Siti Aisyah, adalah guru TK dengan upah Rp300 ribu per bulan. Segala upaya telah dilakukan, mulai dari menjual perhiasan hingga mencari pinjaman, namun tabungan mereka telah ludes untuk biaya kontrol rutin ke Surabaya dan kebutuhan susu medis khusus yang mahal.

Keluarga kini hanya bisa bersandar pada keajaiban dan kedermawanan masyarakat. “Setiap hari adalah upaya menunda kemungkinan terburuk. Kami hanya ingin Nada punya kesempatan untuk sembuh,” tutur Siti Aisyah.

Bagi Anda yang ingin membantu perjuangan Nada agar bisa menjalani transplantasi hati, donasi dapat disalurkan melalui laman resmi Kitabisa di:

👉 kitabisa.com/campaign/nadabisaberobat

Setiap bantuan, doa, maupun penyebaran informasi ini sangat berarti untuk menyambung nafas dan memberikan masa depan bagi Nada Putri Masruri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *