Kabar Desa

Program SAE Literasi: 12 Desa di Probolinggo Jadi Pilot Project Perpustakaan Inklusi 2026

×

Program SAE Literasi: 12 Desa di Probolinggo Jadi Pilot Project Perpustakaan Inklusi 2026

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

PROBOLINGGO, DetikNusantara.co.id – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispersip) Kabupaten Probolinggo terus memperkuat komitmennya dalam meningkatkan taraf hidup masyarakat melalui program SAE Literasi. Hal ini diwujudkan melalui sosialisasi pengembangan literasi perpustakaan desa berbasis inklusi sosial yang digelar di ruang pertemuan Jabung 3, Kantor Bupati Probolinggo, Kamis (12/2/2026).

Acara ini dihadiri oleh 60 peserta, mulai dari jajaran Kepala Desa hingga pengurus TP PKK tingkat kecamatan dan desa. Sinergi ini bertujuan menjadikan perpustakaan bukan sekadar tempat membaca, melainkan pusat pemberdayaan ekonomi dan sosial.

Kepala Dispersip Kabupaten Probolinggo, Ulfiningtyas, mengungkapkan bahwa pada tahun 2026 ini, pihaknya akan memberikan pendampingan intensif bagi 12 desa replikasi. Desa-desa tersebut dipilih berdasarkan rekomendasi kecamatan untuk menjadi percontohan transformasi perpustakaan.

Daftar 12 desa tersebut meliputi:

  • Kecamatan Paiton: Desa Alastengah
  • Kecamatan Wonomerto: Desa Sumberkare
  • Kecamatan Krejengan: Desa Kamalkuning
  • Kecamatan Pakuniran: Desa Pakuniran
  • Kecamatan Banyuanyar: Desa Klenang Lor
  • Kecamatan Kraksaan: Desa Sidopekso
  • Kecamatan Leces: Desa Leces
  • Kecamatan Besuk: Desa Jambangan
  • Kecamatan Gading: Desa Dandang
  • Kecamatan Tongas: Desa Curahtulis
  • Kecamatan Tegalsiwalan: Desa Bulujaran Kidul
  • Kecamatan Gending: Desa Pajurangan

“Sosialisasi ini adalah langkah konkret untuk mengakselerasi program literasi demi kesejahteraan masyarakat Probolinggo melalui pendekatan inklusi sosial,” ujar Ulfi.

Lebih lanjut, Ulfi menjelaskan bahwa transformasi ini merujuk pada program prioritas nasional yang dicanangkan Bappenas sejak 2019. Tujuannya jelas: meningkatkan kualitas hidup masyarakat pengguna perpustakaan melalui layanan yang lebih dinamis.

Senada dengan hal tersebut, Kepala Bidang Pengembangan Budaya Baca dan Pelestarian Pustaka, Muhammad Aminullah, menekankan bahwa perpustakaan harus memiliki nilai kebermanfaatan tinggi.

“Perpustakaan kini berfungsi sebagai wahana pembelajaran bersama. Selain menyediakan referensi bacaan, perpustakaan juga memfasilitasi berbagai pelatihan keterampilan (life skills) untuk mendongkrak potensi ekonomi lokal,” jelas Aminullah.

Keberhasilan program ini sangat bergantung pada kolaborasi di tingkat akar rumput. Dispersip menempatkan Tim Penggerak (TP) PKK desa sebagai motor penggerak utama di lapangan.

Untuk membekali para penggerak tersebut, Dispersip berencana mengadakan pelatihan khusus bagi Ketua TP PKK desa dan Pokja 2. Tujuannya agar mereka memiliki pemahaman mendalam mengenai teknis pengembangan perpustakaan berbasis inklusi.

“Kami sangat mengharapkan dukungan penuh dari pemerintah desa untuk mengawal program ini. Mari kita ciptakan inovasi dan gagasan baru agar target literasi untuk kesejahteraan di Kabupaten Probolinggo segera terwujud,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *