Opini

Surat Kecil dari Ngada: Sebuah Tamparan Keras bagi Nurani Kita

×

Surat Kecil dari Ngada: Sebuah Tamparan Keras bagi Nurani Kita

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

PROBOLINGGO, DetikNusantara.co.id – Kematian YBS, seorang siswa kelas IV SD berusia 10 tahun di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), meninggalkan luka yang mendalam sekaligus tanda tanya besar. Peristiwa tragis ini bukan sekadar kabar duka biasa, melainkan sebuah “jeritan sunyi” yang terlambat kita dengar.

Duka itu tertuang dalam selembar surat tulisan tangan berbahasa daerah (bahasa ibu) yang ditujukan kepada sang ibu. Kalimat-kalimat polos namun menghunjam itu kini menjadi saksi bisu dari beban batin yang dipikulnya.

Dalam surat tersebut, YBS menuliskan perasaan yang campur aduk antara kekecewaan dan kasih sayang:

“Mama Galo Zee (Mama pelit sekali)… Mama molo Ja’o Galo mata Mae Rita ee Mama (Mama baik sudah. Kalau saya meninggal mama jangan menangis)… Molo Mama (Selamat tinggal mama).”

Kalimat-kalimat sederhana seperti “Kalau saya meninggal, Mama jangan menangis” atau “Jangan cari saya lagi” terasa sangat menyayat hati. Di usia yang seharusnya dipenuhi tawa dan bermain, seorang anak kecil sudah harus bergulat dengan kata “meninggal” dan “perpisahan”.

Kematian YBS bukanlah kegagalan seorang ibu semata, melainkan potret kegagalan kolektif kita sebagai orang dewasa, masyarakat, dan negara. Seorang anak tidak akan memilih mengakhiri hidupnya secara tiba-tiba. Selalu ada rangkaian kesunyian, perasaan tak didengar, serta luka batin yang kerap dianggap remeh karena dianggap berasal dari sekadar “masalah anak kecil”.

Padahal, pada usia tersebut, anak-anak berada dalam fase paling rentan. Ketika YBS menulis agar ibunya tidak menangis dan tidak mencarinya, ia sedang menunjukkan beban emosional luar biasa yang seharusnya tidak dipanggul oleh anak berusia 10 tahun.

Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kabupaten Probolinggo, turut menyatakan keprihatinan mendalam atas tragedi ini. Namun, empati tidak boleh berhenti pada air mata. Kejadian ini harus menjadi titik balik bagi semua pihak:

  • Pemerintah: Harus memastikan layanan kesehatan mental dan perlindungan anak tersedia hingga ke dusun-dusun terpencil. Hak anak untuk hidup aman dan dicintai adalah kewajiban konstitusional.
  • Sekolah: Perlu meningkatkan kepekaan terhadap perubahan perilaku siswa.
  • Keluarga & Masyarakat: Lingkungan keluarga perlu didampingi, bukan dihakimi. Masyarakat harus lebih banyak mendengar dan berhenti bersikap apatis.

Surat kecil dari Ngada ini kini menjadi saksi sekaligus teguran keras. Satu anak yang merasa sendirian hingga memilih jalan pintas adalah alarm bahwa ada yang salah dalam sistem sosial kita.

Semoga tidak ada lagi surat perpisahan dari tangan-tangan mungil lainnya. Duka di Ngada harus menjadi pengingat bagi kita semua baik di NTT, Probolinggo, maupun seluruh pelosok Nusantara bahwa menjaga masa depan anak adalah tanggung jawab bersama yang tidak boleh terabaikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *