SUMENEP, DetikNusantara.co.id – Destinasi wisata Pantai Pasir Putih di Dusun Batu Guluk, Desa Bilis-Bilis, Kecamatan Arjasa, Pulau Kangean, Sumenep, menuai sorotan negatif. Di momen libur Tahun Baru 2026, keindahan pantai yang dikenal dengan panorama bukit hijaunya ini justru tertutup tumpukan sampah di sepanjang bibir pantai.
Kondisi tersebut membuat para pengunjung merasa tidak nyaman dan kecewa. Padahal, pantai ini merupakan salah satu destinasi idola warga di wilayah Kecamatan Arjasa dan Kangayan untuk melepas penat bersama keluarga.
Salah satu pengunjung, Kida, menyatakan kekecewaannya karena fasilitas dan kebersihan pantai tidak sebanding dengan harga tiket masuk. Ia mengaku membayar tarif Rp50.000 untuk rombongan keluarganya, namun kesulitan mencari tempat bersantai yang bersih.
“Kami datang ingin menikmati suasana pantai, tapi sampai di lokasi malah banyak sampah berjejer. Rasanya tidak sebanding dengan harga tiket yang dibayarkan. Pengelola seolah hanya fokus pada tarif tanpa memikirkan kenyamanan kami,” ujar Kida kepada media, Jumat (2/1).
Senada dengan Kida, pengunjung lain bernama Mbak Mua juga menyayangkan kurangnya fasilitas penunjang kebersihan di area wisata tersebut. “Harusnya pengelola menyediakan banyak tempat sampah agar pengunjung tidak membuang sampah sembarangan dan keasrian pantai tetap terjaga,” tuturnya.
Tanggapan Pengelola Pantai
Menanggapi keluhan tersebut, pihak pengelola Pantai Pasir Putih memberikan klarifikasi. Perwakilan pengelola yang enggan disebutkan namanya berdalih bahwa tumpukan sampah tersebut murni disebabkan oleh fenomena alam.
Menurutnya, cuaca ekstrem berupa angin kencang dan gelombang laut yang naik dalam beberapa hari terakhir membawa sampah kiriman dari tengah laut ke daratan.
“Ini fenomena alam. Terjadi angin ribut dan air laut pasang, sehingga dalam waktu singkat sampah terbawa ke bibir pantai,” jelasnya singkat.
Meskipun demikian, para pengunjung berharap pihak pengelola lebih responsif dan sigap dalam membersihkan sampah kiriman tersebut agar citra Pantai Pasir Putih sebagai “pantai perawan” di Sumenep tidak luntur dan tetap diminati wisatawan lokal maupun luar daerah.

