PROBOLINGGO, DetikNusantara.co.id – AZH bayi berusia 9 bulan, meninggal dunia setelah menjalani perawatan di ruang Pediatric Intensive Care Unit (PICU) RS Rizani Paiton, Kabupaten Probolinggo. Keluarga membawa AZH pulang atas permintaan sendiri setelah lima hari dirawat karena merasa trauma dengan kendala pemasangan infus dan mempertanyakan waktu rujukan.
AZH meninggal dunia saat hendak dibawa ke Puskesmas Kotaanyar pada Senin (19/10/2026) sekitar pukul 15.00 WIB. Keluarga menyebut kondisi bayi tersebut tidak kunjung membaik selama menjalani perawatan.
Husnul Humaidi (57), ayah AZH, menuturkan putrinya masuk RS Rizani Paiton pada Kamis sore (8/10/2026) dengan keluhan batuk dan demam. AZH kemudian dirawat di ruang PICU menggunakan penjaminan BPJS Kesehatan.
Menurut Humaidi, hingga Senin (12/10/2026), keluarga belum melihat perkembangan kondisi AZH seperti yang diharapkan. Informasi yang diterima keluarga dari perawat menyebutkan hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan kadar sel darah putih Aira tinggi.
“Selama lima hari di ruang PICU, belum ada perkembangan yang baik. Perawat hanya menginformasikan kalau hasil laboratorium menunjukkan sel darah putih anak saya tinggi,” ujar Humaidi.
Selain kondisi kesehatan, keluarga juga menyoroti perubahan berat badan AZH selama dirawat. Humaidi mengatakan, berat badan putrinya tercatat 7,2 kilogram saat pertama kali masuk rumah sakit. Namun, ketika ditimbang kembali pada Senin, berat badannya disebut mencapai 8,4 kilogram.
Pada waktu yang sama, keluarga mengamati kedua tangan dan kaki AZH mengalami pembengkakan. Menurut Humaidi, pembengkakan tersebut mulai terlihat sejak sekitar hari ketiga perawatan.
Humaidi mengaku telah beberapa kali menyampaikan keluhan itu kepada perawat. Namun, menurut dia, keluarga mendapat jawaban bahwa tubuh Aira tidak mengalami pembengkakan.
Ia juga mengaku pernah mempertanyakan kenaikan berat badan tersebut kepada dokter. Menurut Humaidi, dokter menjelaskan bahwa kenaikan berat badan AZH berkaitan dengan tambahan cairan.
Kekecewaan keluarga semakin besar ketika aliran infus AZH mengalami kendala pada Senin malam. Humaidi menuturkan, jarum infus kemudian dilepas dan petugas mencoba memasangnya kembali.
Namun, menurut pengakuan Humaidi, pemasangan infus dilakukan berulang kali karena petugas disebut kesulitan menemukan pembuluh darah vena.
Keluarga mengaku khawatir melihat kondisi AZH yang dinilai semakin mengkhawatirkan. Kekhawatiran itu bertambah karena tangan dan kaki AZH terlihat membengkak, sementara pemasangan infus mengalami kendala.
Setelah kejadian tersebut, keluarga mendapat penjelasan bahwa AZH perlu dirujuk ke rumah sakit di Surabaya.
Humaidi mempertanyakan mengapa rujukan baru disampaikan setelah beberapa hari putrinya menjalani perawatan.
“Kami kaget, kenapa baru sekarang dirujuk? Kenapa tidak dari hari-hari sebelumnya?” kata Humaidi, menirukan pertanyaan yang disampaikan kepada pihak rumah sakit.
Menurut Humaidi, alasan yang diterima keluarga berkaitan dengan keterbatasan peralatan medis di RS Rizani Paiton.
Keluarga akhirnya menolak rujukan tersebut. Humaidi menyebut keputusan itu diambil karena keluarga merasa trauma setelah menyaksikan proses pemasangan infus yang menurut mereka berulang kali mengalami kegagalan.
Keluarga kemudian meminta agar AZH dibawa pulang. Meski demikian, menurut Humaidi, pihak rumah sakit telah menjelaskan risiko yang mungkin terjadi apabila perawatan lanjutan tidak dilakukan.
Humaidi menjelaskan, keluarga juga mendapat informasi bahwa kepulangan atas permintaan sendiri dapat berdampak pada penjaminan biaya perawatan melalui BPJS Kesehatan.
Keluarga menyatakan bersedia menanggung biaya tersebut. Mereka kemudian menandatangani formulir kepulangan, membayar tagihan rumah sakit, serta menerima nota pembayaran dan surat kontrol.
Setelah AZH dibawa pulang ke rumah di Kecamatan Kotaanyar, pihak RS Rizani disebut sempat menghubungi keluarga untuk menanyakan kondisi bayi tersebut.
Menurut Humaidi, rumah sakit juga menawarkan layanan perawatan di rumah secara gratis. Namun, tawaran tersebut belum diterima karena keluarga masih merasa trauma dengan pengalaman selama menjalani perawatan di rumah sakit.
Sementara itu, Direktur RS Rizani Paiton, Dr. dr. Mirrah Samiyah, menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya AZH.
Ia menegaskan bahwa pihak rumah sakit tidak menolak rujukan. Menurut dia, rujukan lanjutan ditawarkan karena kondisi AZH membutuhkan konsultasi dengan dokter spesialis hematologi yang belum tersedia di wilayah Kabupaten Probolinggo.
“Dalam perkembangan kondisi ananda, perlu konsultan dokter spesialis hematologi yang memang belum ada di wilayah Kabupaten Probolinggo. Sehingga kami membantu menawarkan untuk mencari rujukan tingkat lanjut,” jelas dr. Mia sapaan akrabnya.
Ia mengatakan, keluarga menolak tawaran rujukan tersebut. Pihak rumah sakit, lanjutnya, juga telah menawarkan agar AZH tetap menjalani perawatan di RS Rizani, tetapi keluarga tetap memilih membawa pasien pulang.
Menurut dr. Mia, tim medis telah menjelaskan risiko yang dapat timbul apabila pasien tidak melanjutkan perawatan. Pihak rumah sakit juga memberikan penjelasan mengenai konsekuensi pembiayaan setelah pasien pulang atas permintaan sendiri.
“Karena keluarga tetap meminta pulang, pembiayaan BPJS beralih menjadi pasien umum sesuai regulasi yang berlaku,” ujarnya.
dr. Mia menambahkan, rumah sakit juga menawarkan layanan pemantauan pasien melalui program Halo Perawat secara gratis setelah kepulangan AZH. Namun, menurut dia, keluarga tidak menerima tawaran tersebut.
“Sampai kabar meninggalnya ananda, kami juga mendengar. Sekali lagi, kami turut berbelasungkawa. Bismillah, segala ikhtiar keluarga juga sudah yang terbaik untuk ananda,” ujar dr. Mia.
AZH meninggal dunia pada Senin (19/10/2026) sekitar pukul 15.00 WIB ketika keluarga membawanya menuju Puskesmas Kotaanyar untuk mendapatkan pemeriksaan. Namun, sebelum tiba di fasilitas kesehatan tersebut, nyawanya tidak tertolong.













