Categories: Berita

Mengenal Sejarah Sumber Raden: Saat Ratusan Siswa Jember Belajar Literasi dari Alam dan Cerita Rakyat

JEMBER — Literasi tidak selalu dimulai dari buku. Di Desa Suci, Kecamatan Panti, Jember, literasi justru tumbuh dari langkah kaki anak-anak yang menyusuri jalan desa, dari tangan-tangan kecil yang menggambar, mendongeng, hingga menumbuk sampah organik di halaman sekolah.

Selama tiga hari, 15–17 Desember 2025, halaman SDN Suci 02 berubah menjadi ruang belajar yang hidup. Di sanalah Kemah Literasi Gugus 2 Panti Jilid 2 digelar, mempertemukan 100 siswa dari 10 sekolah dasar dalam sebuah perkemahan literasi berbasis seni, budaya, dan pengalaman langsung.

“Kami ingin anak-anak merasakan bahwa belajar itu menyenangkan dan dekat dengan kehidupan mereka,” ujar Ribut Irawan, Kepala SDN Suci 02, saat ditemui di sela kegiatan. Menurutnya, sekolah pedesaan membutuhkan pendekatan literasi yang kontekstual, tidak sekadar mengejar capaian akademik.

Selama kemah, para peserta mengikuti beragam materi: menggambar, menari, pantomim, seni kriya, menyanyi, menulis cerita, hingga mendongeng. Salah satu sesi yang paling menyedot perhatian anak-anak adalah kelas mendongeng yang dipandu Kak Anggoro, pegiat literasi yang dikenal dengan gaya bertutur hangat dan penuh humor.

“Dongeng bukan cuma cerita sebelum tidur. Ia melatih empati, imajinasi, dan keberanian berbicara. Selamat datang di negeri dongeng” kata Anggoro di sambut hangat anak anak dihadapannya.

Bagi Bima, siswa kelas empat yang menjadi salah satu peserta, kemah literasi ini adalah pengalaman kedua, yang selalu ia nantikan tampil berpantomim di depan teman-temannya.

“Awalnya takut, tapi setelah dicoba ternyata senang. Saya jadi berani tampil,” ujarnya singkat sambil tersenyum.

Puncak kegiatan berlangsung pada hari terakhir, Rabu (17/12). Seluruh peserta bersama guru pendamping melakukan jelajah desa menuju Bank Sampah “Larakan Makmur”. Di tempat itu, anak-anak belajar memilah sampah, mengenali proses daur ulang, serta memahami dampak sampah terhadap lingkungan.

“Kami ingin anak-anak paham bahwa literasi juga soal kepedulian,” ujar Nur Qomariah, panitia kegiatan. Menurutnya, kunjungan ke bank sampah menjadi pintu masuk pendidikan lingkungan sejak dini.

Perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki menyusuri desa menuju sebuah mata air yang dikenal warga sebagai Sumber Raden. Sekitar 150 peserta mengikuti perjalanan ini. Di lokasi yang teduh oleh pepohonan besar itu, anak-anak mendengarkan kisah lokal dari pak Kustono tentang pohon “Raden” yang dipercaya menaungi dan melindungi sumber air.

Warga setempat meyakini Mbah Kano sebagai sesepuh yang dahulu membabat dan merawat kawasan Sumber Raden. Pada masa lalu, tempat ini ramai digunakan untuk menyepi dan menjalani ritus tertentu, terutama setiap Selasa Kliwon dan Jumat Manis. Hingga kini, airnya yang jernih masih menjadi sumber kebutuhan air bersih warga, dialirkan melalui pipa dari rumah ke rumah.

Di sinilah literasi menemukan wajah lain: mengenal sejarah lokal, alam, dan nilai-nilai hidup masyarakat.

“Anak-anak perlu tahu bahwa kampung mereka menyimpan pengetahuan luar biasa yang bias diangkat dan dikelola menjadi karya-karya literatif,” kata Ribut Irawan. “Itu bagian penting dari pembentukan karakter.”

Kemah Literasi Gugus Desa bukan sekadar agenda tahunan yang memanfaatkan jedah waktu usai ujian semester. Namun bagi guru – guru penggerak literasi pedesaan di kawasan Hyang Argopuro Selatan, kegiatan ini menjadi upaya kolektif untuk meneguhkan budaya membaca, menulis, berkesenian, dan berpikir kritis. Pembelajaran dirancang berbasis pengalaman: hangat, luwes, dan menyenangkan; lengkap dengan humor yang membuat anak-anak betah mencoba hal baru.

Lebih jauh, kegiatan ini mempertemukan banyak pihak: sekolah, pemerintah desa, komunitas literasi, pegiat pendidikan dan budaya, hingga masyarakat sekitar. Hadir pula mobil pintar dari Dispussip Jember yang turut melengkapi keseruan kemah literasi. Dari sinilah diharapkan tumbuh cikal bakal Kampung Literasi Gugus Desa, sekaligus memberi kontribusi nyata bagi peningkatan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) Kabupaten Jember, khususnya di Kecamatan Panti.

 

Di bawah rindang pohon dan suara tawa anak-anak, literasi menemukan denyut hidupnya; tidak kaku, tidak jauh, tetapi tumbuh dari tanah tempat mereka berpijak. (r1ck)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Redaksi

Recent Posts

Apakah Uang yang Dikembalikan Tersangka Korupsi Bisa Ditarik Kembali Jika Penyidikan Dihentikan (SP3)?

DETIKNUSANTARA.CO.ID - Ada soalan: Seseorang telah ditetapkan sebagai tersangka berdasarkan Pasal 603 dan 604 KUHP.…

1 hari ago

Dilema Delik Pengancaman: Bedah Unsur Pasal 483 KUHP dalam Transaksi ‘Take Down’ Berita oleh Oknum Jurnalis

DETIKNUSANTARA.CO.ID - Ada rumusan Kasus: Seorang individu meminta kepada seorang oknum jurnalis untuk menurunkan (take…

1 hari ago

Logika Kalender Hijriah: Bahaya di Balik Sikap Tidak Konsisten Memilih Awal dan Akhir Ramadan

DETIKNUSANTARA.CO.ID - Ada sebuah soalan: apakah boleh seseorang mengawali puasa mengikuti keputusan pemerintah (1 Ramadan…

1 hari ago

Kisah Pilu Nada, Balita di Probolinggo Pejuang Atresia Bilier yang Butuh Uluran Tangan

PROBOLINGGO, DetikNusantara.co.id – Di sebuah rumah sederhana di Dusun Krajan 1, Desa Sumberan, Kecamatan Besuk,…

2 hari ago

Pastikan Listrik Idul Fitri 1447 H Aman, PLN NP UP Paiton Gelar Apel Kesiapsiagaan

PROBOLINGGO, DetikNusantara.co.id — Menjelang perayaan Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah, PT PLN Nusantara Power…

3 hari ago

Aksi Sosial di Exit Tol Leces: Wartawan dan Aktivis Probolinggo Bantu Sopir Truk Asal Jember

PROBOLINGGO, DetikNusantara.co.id – Kepedulian terhadap sesama ditunjukkan oleh Komunitas Media Siber Probolinggo (KOMSIPRO) dan aktivis…

3 hari ago