Religi

Merayakan Al-Qur’an, Menghidupkannya: Catatan Perjalanan Surabaya–Semarang

×

Merayakan Al-Qur’an, Menghidupkannya: Catatan Perjalanan Surabaya–Semarang

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

SURABAYA, DetikNusantara.co.id — Pukul enam pagi, perjalanan dari Surabaya menuju Semarang dimulai. Perjalanan itu bukan sekadar untuk menyaksikan pembukaan MTQ Nasional XXXI, tetapi juga menjadi kesempatan untuk mendampingi dan memberi semangat kepada tujuh kafilah Surabaya yang mewakili Jawa Timur dalam berbagai cabang musabaqah.

 

Para kafilah Surabaya berlaga di sejumlah cabang, mulai dari kaligrafi, syarhil Qur’an, tilawah tuna netra, hingga hafalan 30 juz. Mereka membawa harapan dan doa, sekaligus menjadi bagian dari generasi yang memilih Al-Qur’an sebagai jalan untuk belajar, berproses, dan berprestasi.

 

Perjalanan Surabaya–Semarang yang cukup panjang terasa ringan karena ditempuh bersama sahabat-sahabat lama yang selama ini jarang bersua. Cerita lama kembali tersambung, tawa mengalir, dan suasana perjalanan menjadi lebih hangat.

 

Sesampainya di Semarang, kami menyempatkan diri menyapa para kafilah. Doa dan dukungan dititipkan agar seluruh ikhtiar mereka mendapatkan hasil terbaik.

 

Ada kebanggaan tersendiri melihat anak-anak muda berjuang melalui jalan Al-Qur’an. Perjuangan mereka tentu bukan hanya tentang meraih juara. Lebih dari itu, ada proses belajar tentang disiplin, tanggung jawab, kesabaran, dan keberanian untuk memberikan yang terbaik.

 

Sore hari, kami singgah di Lawang Sewu untuk melepas penat. Sekadar berjalan-jalan dan mengabadikan kebersamaan dalam beberapa foto.

 

Sederhana, tetapi justru dari momen itu terasa bahwa perjalanan menuju MTQ Nasional XXXI di Semarang bukan hanya tentang perlombaan. Ada silaturahim yang kembali terhubung, persahabatan yang kembali hangat, serta pengalaman yang kelak menjadi cerita.

 

Malam harinya, pembukaan MTQ berlangsung meriah. Panggung megah berdiri, sementara kafilah dari berbagai daerah berkumpul dalam satu semangat: Al-Qur’an.

 

Di tengah kemeriahan tersebut, muncul kesadaran bahwa MTQ bukan semata-mata musabaqah atau ajang perlombaan. MTQ juga menjadi ruang pertemuan, silaturahim, sekaligus momentum untuk memperkuat persaudaraan melalui kecintaan terhadap Al-Qur’an.

 

Namun, dalam perjalanan pulang, muncul sebuah pertanyaan sederhana tetapi mendalam: apa sebenarnya makna MTQ bagi kehidupan kita?

 

Jangan sampai kita begitu sibuk merayakan Al-Qur’an, tetapi lupa menghidupkannya dalam kehidupan sehari-hari.

 

Kita bisa kagum mendengar bacaan yang indah. Namun, sudahkah ucapan kita juga seindah bacaan tersebut?

 

Kita bangga kepada para penghafal Al-Qur’an. Tetapi, sudahkah perilaku kita mencerminkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya?

 

Merayakan Al-Qur’an mungkin mudah. Ada panggung, tepuk tangan, kemeriahan, dan berbagai penghargaan. Namun, menghidupkan Al-Qur’an membutuhkan kesabaran, kejujuran, keteladanan, dan konsistensi dalam keseharian.

 

Barangkali MTQ yang sesungguhnya justru dimulai ketika panggung telah dibongkar dan lampu dipadamkan.

 

Saat itulah nilai-nilai Al-Qur’an kembali diuji dalam kehidupan nyata: bagaimana kita memperlakukan keluarga, menghormati tetangga, membantu sesama, menjaga lisan, bekerja dengan jujur, serta menjalankan amanah.

 

Malam semakin larut. Semarang perlahan tertinggal, sementara Surabaya semakin dekat.

Wajah para kafilah yang penuh harap dan doa terus terbayang. Semoga setiap ikhtiar mereka tidak hanya berbuah prestasi, tetapi juga keberkahan.

Kami pulang membawa cerita, tawa, kebersamaan, dan kebanggaan. Namun, perjalanan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai kenangan.

Sebab akan menjadi ironi jika kita begitu meriah merayakan Al-Qur’an di atas panggung, tetapi sepi menghadirkannya dalam kehidupan.

Perjalanan pulang dari Semarang menuju Surabaya akhirnya terasa seperti perjalanan pulang kepada diri sendiri. Sebuah perjalanan untuk bertanya: sudah sejauh mana Al-Qur’an hadir dalam cara kita mencintai, memaafkan, bekerja, berbuat baik, dan menjaga amanah?

Panggung akan dibongkar. Tepuk tangan akan berhenti. Perlombaan akan selesai.

Tetapi kebaikan yang lahir dari nilai-nilai Al-Qur’an semestinya terus hidup dalam diri dan dirasakan oleh orang lain.

Mungkin itulah kemenangan sejati. Bukan ketika orang lain hanya kagum pada indahnya bacaan kita, melainkan ketika mereka merasakan indahnya akhlak kita karena Al-Qur’an.

MTQ mungkin usai pekan ini. Namun, tugas untuk menghidupkan Al-Qur’an tidak pernah selesai.

Ely Rosyidah

Pemerhati isu keluarga dan relasi sosial, aktif dalam kegiatan keagamaan dan pemberdayaan masyarakat di Surabaya.

 

Tag:
Penulis: M. NasirEditor: Fandi Maulana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *