Categories: Lumajang

14 Desa di Lumajang Rawan Banjir Lahar Hujan Semeru, Supiturang dan Oro-Oro Ombo Jadi Perhatian Khusus

LUMAJANG, DetikNusantara.co.id – Sebanyak 14 desa yang tersebar di enam kecamatan di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, masuk dalam wilayah rawan terdampak banjir lahar hujan Gunung Semeru. Potensi ancaman bencana tersebut meningkat seiring memasuki musim hujan.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang, Isnugroho, mengatakan belasan desa tersebut berada di sepanjang aliran sungai yang berhulu di kawasan Gunung Semeru.

Menurutnya, wilayah-wilayah tersebut memiliki potensi terdampak banjir lahar hujan apabila material vulkanik terbawa aliran air akibat tingginya intensitas hujan di kawasan puncak Semeru.

Adapun 14 desa yang masuk dalam peta wilayah rawan banjir lahar hujan Semeru tersebar di enam kecamatan.

Di Kecamatan Tempursari, terdapat tiga desa yang berada di sepanjang aliran Sungai Kali Glidik, yakni Desa Bulurejo, Purorejo, dan Tegalrejo.

Sementara di Kecamatan Pronojiwo, terdapat empat desa yang berpotensi terdampak, yaitu Desa Sidomulyo, Oro-Oro Ombo, Sumberurip, dan Supiturang. Keempat desa tersebut berada di kawasan aliran Daerah Aliran Sungai (DAS) Kobokan dan Besuk Kembar.

Selanjutnya, di Kecamatan Candipuro terdapat tiga desa, yakni Jugosari, Sumberwuluh, dan Tumpeng yang berada di sepanjang aliran Sungai Kobokan.

Di Kecamatan Pasrujambe, wilayah rawan meliputi Desa Kertosari yang berada di aliran Besuk Sat. Sedangkan di Kecamatan Pasirian terdapat Desa Gondoruso yang berada di sepanjang aliran Sungai Rejali.

Adapun di Kecamatan Tempeh, dua desa yang masuk wilayah rawan adalah Desa Gesang dan Lempeni yang berada di sepanjang aliran Kali Mujur.

Dari 14 desa tersebut, BPBD Lumajang memberikan perhatian khusus terhadap Desa Supiturang dan Oro-Oro Ombo di Kecamatan Pronojiwo. Kedua wilayah ini dinilai memiliki potensi kerawanan lebih tinggi terhadap ancaman banjir lahar hujan Gunung Semeru.

Isnugroho menjelaskan, kondisi tersebut berkaitan dengan arah bukaan kawah Gunung Semeru yang mengarah ke tenggara. Selain itu, kondisi tanggul di kawasan Sumber Sari juga menjadi perhatian karena material sedimentasi yang tersisa diperkirakan hanya sekitar satu meter.

Temuan tersebut diketahui setelah BPBD bersama Bupati Lumajang melakukan survei lapangan. Dalam kegiatan itu, masyarakat menyampaikan permintaan agar dilakukan penambahan tanggul di kawasan atas Sumber Sari guna memperkuat perlindungan terhadap permukiman warga.

“Karena bukaan kawah Semeru menuju tenggara, kemarin waktu disurvei bersama Bupati, ada permintaan warga agar dilakukan penambahan tanggul di atas Sumber Sari untuk penguatan. Sedimentasi yang ada di sana tersisa sekitar satu meter,” ungkap Isnugroho.

Ia menambahkan, apabila material vulkanik dari kawasan bukaan kawah turun bersamaan dengan hujan berintensitas tinggi, kondisi tersebut berpotensi membahayakan masyarakat, khususnya warga Desa Supiturang dan Oro-Oro Ombo.

Untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya bencana, BPBD Lumajang mengimbau masyarakat yang tinggal di kawasan rawan agar meningkatkan kewaspadaan, terutama saat hujan deras mengguyur wilayah Gunung Semeru.

Masyarakat juga diminta tidak mudah mempercayai informasi atau isu yang belum jelas kebenarannya, serta selalu mengikuti arahan petugas dan memperhatikan sistem peringatan dini yang telah dipasang di sejumlah titik rawan bencana.

Isnugroho menjelaskan, apabila terjadi awan panas guguran dengan jangkauan hingga enam kilometer, sirene peringatan yang telah dipasang petugas akan berbunyi secara terus-menerus sebagai tanda bahaya.

“Ketika nanti terjadi awan panas guguran dengan jangkauan sampai enam kilometer, sirene yang kita pasang akan berbunyi terus-menerus. Kalau masyarakat sudah mendengar itu, harus segera melakukan evakuasi mandiri menuju titik kumpul,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan warga agar tidak mendekati lokasi bencana hanya untuk menyaksikan ataupun merekam kejadian awan panas guguran. Tindakan tersebut sangat berisiko terhadap keselamatan jiwa.

“Jangan terus melihat atau merekam awan panas guguran, karena itu sangat membahayakan,” pungkas Isnugroho.

BPBD Lumajang berharap masyarakat di 14 desa rawan bencana dapat memahami potensi ancaman banjir lahar hujan maupun bahaya aktivitas vulkanik Gunung Semeru. Warga juga diminta mematuhi prosedur evakuasi dan segera menuju titik kumpul apabila sirene peringatan dini berbunyi demi menghindari risiko korban jiwa.

Admin

Recent Posts

Munas FK PKBM Indonesia di UNESA Surabaya Diwarnai Kericuhan, Peserta Protes Usulan Larangan Politik Uang

SURABAYA, DetikNusantara.co.id – Pelaksanaan Musyawarah Nasional (Munas) Forum Komunikasi Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (FK PKBM)…

4 jam ago

Disnaker Lumajang Kelola DBHCHT Rp1,9 Miliar pada 2026, Biayai BPJS Ketenagakerjaan 15 Ribu Peserta

LUMAJANG, DetikNusantara.co.id – Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Lumajang mendapatkan alokasi anggaran sebesar Rp1,9 miliar…

1 hari ago

200 Atlet Ikuti Turnamen Badminton Besuki Raya Cup 2026, Diikuti 17 Klub Se-Tapal Kuda

SITUBONDO, DetikNusantara.co.id – Ratusan atlet bulu tangkis usia dini hingga remaja dari berbagai daerah di…

1 hari ago

Anomali PPP; Yang Gagal Siapa Yang Dipecat Siapa

Kegagalan PPP tidak cukup hanya dinilai dengan angka dari hasil Pileg 2024 yang hanya mencapai…

2 hari ago

LIRA Kecam Dugaan Penyadapan Presiden Prabowo, Desak Pembentukan Tim Investigasi Independen

PROBOLINGGO, DetikNusantara.co.id – Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Lumbung Informasi Rakyat (LIRA) menyoroti dugaan kasus penyadapan…

2 hari ago

Klaim Anggaran Perjalanan Dinas BPPKAD “Kecil” Dikecam, LSM AMPP: Tidak Rasional dan Melukai Keadilan

PROBOLINGGO, DetikNusantara.co.id – Dalih efisiensi dan tingginya mobilitas yang dilontarkan Badan Pengelolaan Pendapatan, Keuangan, dan…

4 hari ago