Opini

CARPAK? Raut Gusar Warga Kulon Pasar Tanjung Jember

×

CARPAK? Raut Gusar Warga Kulon Pasar Tanjung Jember

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Ditulis oleh : Mochammad Faizin, Wakabid Politik DPC GMNI Jember

 

“CARPAK!!!”, Sebuah kata kultural yang terucap oleh Gus Fawait, Bupati Jember, dalam pertemuan dengan pedagang dan warga di Pasar Tanjung.

 

Kiranya kata tersebut merupakan perenungan etimologis dari Gus Fawait untuk mempertanggungjawabkan omongan dan moralnya sebagai pejabat publik yang mengaku menjadi Kader-nya Presiden Prabowo Subianto.

 

Fawait mampu mengadaptasi penyebutan “Omon-omon” ala Prabowo menjadi kata “Carpak” yang lebih lekat dengan masyarakat kultur Jawa Madura di Jember.

 

“Kalau saya ngomong beres beres beres, CARPAK!!!”, ucap Fawait pada 16 September 2026 dihadapan para pedagang, dan warga sekitar Pasar Tanjung.

 

Berkaca dari kalimat tersebut, perlu adanya cermin keinsyafan untuk menyingkap realitas yang belum sepenuhnya mencuat di permukaan.

 

Permasalahan di Pasar Tanjung sudah terlampau mengakar hingga puluhan tahun. Sekaranglah akan timbul sebuah momentum berupa timbangan kebijaksanaan yang menakar tentang seberapa berpihak seorang pemimpin terhadap nasib rakyatnya.

 

Keluhan atas kecacatan tata kelola pasar dan kesemerawutan fungsi jalan tidak hanya menggema dari jeritan pedagang.

 

Di sekitaran Pasar Tanjung, terdapat ratusan warga yang terhimpun dalam beberapa RW dan puluhan RT. Artinya, urusan tata kelola pasar dan jalan tidak hanya berdampak pada para pedagang.

 

Warga sekitar Pasar Tanjung yang terhimpun dalam forum Warga Kulon Pasar mengeluhkan beberapa permasalahan tentang disfungsi jalan.

 

Hal paling krusial yang dikeluhkan warga adalah sebuah masalah ketika kondisi darurat terjadi. Seringkali ketika warga membutuhkan solusi atas masalah kelistrikan dan kondisi darurat di wilayahnya, justru yang terjadi adalah keluhan balik dari mobil ambulan dan mobil PLN.

 

Bagaimana tidak, dengan kondisi jalan sekitar pasar yang semacet itu, mobil PLN dan ambulan justru bertanya balik dengan pertanyaan bingung terhadap lokasi yang akan mereka tempati parkir.

 

Akibatnya sangat fatal. Kondisi darurat yang memerlukan penanganan sesegera mungkin harus berhadapan dengan kesemerawutan kondisi jalan dengan akses parkir minim.

 

Ada pula warga yang mengeluhkan tentang permasalahan kebersihan di sekitar jalan dan pertokoan Jl. Samahudi. Di pagi hari, tidak jarang pemilik pertokoan harus senantiasa menyediakan cairan pembersih lantai untuk membersihkan tokonya dari bekas dan bau pesing dari orang yang tidak bertanggung jawab.

 

Jejeran pedagang di bahu jalan Pasar Tanjung membuat kondisi tersebut menjadi wajar. Lokasi toilet yang minim, hanya ada di dalam bangunan pasar, dan kondisinya yang belum tentu masuk dalam kategori layak, mewajarkan situasi pesing di pagi hari yang tumpah ruah pada lantai pertokoan di samping jalan.

 

Tidak hanya soal sampah pagi dari pedagang bahu jalan yang harus dibersihkan secara mandiri oleh pemilik pertokoan. Warga sekitar juga mengeluhkan sulitnya akses parkir di sekitar jalan Pasar Tanjung. Pertokoan di samping jalan tidak dapat menyediakan akses parkir untuk pembeli karena lokasinya sudah dipunggungi terlebih dahulu oleh pedagang yang melapak di bahu jalan.

 

Warga kesulitan untuk masuk-keluarnya kendaraan pribadi mereka. Bahkan tidak sedikit yang mengeluhkan bahwa mobil pribadinya sering terserempet mobil pedagang dengan mobil pick-up. Ban motor dan mobil milik warga tidak jarang tiba-tiba digembosi secara diam-diam oleh pihak yang tidak bertanggung jawab karena dianggap menghalangi lokasi berdagang di bahu jalan. Hingga terkadang, spion mobil warga digunakan untuk cantolan dagangan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab.

 

Warga juga menceritakan betapa susahnya akses keluar masuk kendaraan ketika hendak mengantarkan anaknya ke sekolah. Akses jalan yang tertutup macet seringkali membuat anaknya telat sekolah.

 

Serangkaian masalah tersebutlah yang membesitkan kesimpulan di benak warga bahwa jalan di Kulon Pasar Tanjunng harus segera ditata dan dikembalikan sesuai fungsinya.

 

Jl. Samahudi akan lebih menghidupkan ekonomi pasar dan mempermudah akses warga ketika arus lalu lintasnya dikembalikan menjadi Selatan ke Utara seperti sepuluh tahun lalu.

 

Atas serangkaian permasalahan dan keluhan dari warga di sekitar Pasar Tanjung tersebut. Sudah selayaknya Gus Bupati mendengar dan mempertanggungjawabkann kalimat heroiknya.

 

“Kasih waktu saya seminggu, saya yang akan mengundang panjenengan ke pendopo, untuk membicarakan skenario penanganan masalah-masalah pedagang yang ada di jalan” Fawait, Pasar Tanjung, Rabu, 16 September 2026

 

Momentum inilah yang akan menguji kebijaksanaan seorang pemimpin dalam menghasilkan sebuah solusi yang berkeadilan untuk pedagang, pekerja, kuli, dan warga Pasar Tanjung.

 

Kedepan, Pasar Tanjung harus ditata dan dijamin ketertibannya setiap saat. Agar tidak ada lagi celetukan warga atas kesaksiannya terhadap peristiwa pungli dan premanisme.

 

Skenario penanganan masalah di Pasar Tanjung harus menghasilkan solusi tata kelola pasar yang berkeadilan dan konsisten. Demi keselamatan bersama, jalan pasar harus dikembalikan sesuai fungsinya.

 

Tumbuh suburnya Pasar Tanjung adalah teropong awal untuk mewujudkan visi “Jember Baru Jember Maju”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *