Categories: Fakta

Apakah ada kewajiban bagi pelaksana eksekusi untuk menyediakan tempat penampungan bagi pihak tereksekusi ???.

SURABAYA, DetikNusantara.co.id – Dalam perspektif hukum acara perdata, eksekusi pada prinsipnya merupakan instrumentum imperii yang dimiliki oleh negara untuk memastikan daya kerja (executoriale kracht) dari putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap (in kracht van gewijsde). Kedudukan eksekusi hanyalah bersifat menjalankan apa yang telah di-dictum-kan dalam amar putusan, tanpa kewenangan menambah atau mengurangi substansi amar tersebut.

Konsekuensinya, apabila putusan pengadilan yang dieksekusi berkaitan dengan pengosongan atau penyerahan objek sengketa, maka tanggung jawab pelaksanaan aparat pengadilan, khususnya juru sita dengan bantuan aparat keamanan, sebatas pada delivery of justice dalam bentuk pengosongan dan penyerahan objek sebagaimana diperintahkan putusan. Tidak terdapat norma positif, baik dalam HIR, RBg, maupun Reglemen Mahkamah Agung, yang mewajibkan pengadilan ataupun pemohon eksekusi untuk menyediakan hunian sementara bagi pihak tereksekusi.

Prinsip nemo plus juris transferre potest quam ipse habet mengajarkan bahwa pengadilan tidak dapat memberikan sesuatu di luar kerangka amar putusan. Penyediaan rumah atau tempat tinggal bagi pihak tereksekusi adalah konsepsi ekstra yuridis yang sama sekali tidak berada dalam horizon kewajiban pengadilan. Tanggung jawab atas keberlanjutan pemenuhan kebutuhan dasar, termasuk tempat tinggal sementara/tetap, sepenuhnya menjadi beban subjek hukum yang tereksekusi, sebagai akibat yuridis dari kekalahan dalam sengketa perdata.

Dengan demikian, argumentasi yang menuntut kewajiban pengadilan untuk menyediakan tempat tinggal sementara bagi tereksekusi tidak memiliki legitimasi normatif, melainkan hanya bersifat retoris-sosiologis. Dalam tataran legal doctrine, eksekusi merupakan tindakan murni yuridis yang dibatasi oleh amar putusan; segala konsekuensi sosial yang lahir dari eksekusi bukanlah domain tanggung jawab lembaga peradilan, melainkan konsekuensi hukum yang harus ditanggung oleh pihak yang kalah.

Redaksi

Recent Posts

Khofifah Salurkan Bantuan Rp19,6 Miliar untuk Kabupaten Probolinggo, Pemberdayaan Ekonomi hingga Infrastruktur

PROBOLINGGO, DetikNusantara.co.id – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyalurkan berbagai bantuan sosial dan program…

11 jam ago

Hujan Deras di Kawasan Semeru, Bunda Indah Imbau Penambang Hentikan Aktivitas Sementara

LUMAJANG, DetikNusantara.co.id – Bupati Lumajang, Indah Amperawati atau yang akrab disapa Bunda Indah, mengimbau seluruh…

14 jam ago

PSI Probolinggo Soroti Anggaran Perjalanan Dinas BPPKAD Rp467,79 Juta, Singgung Perlindungan Jurnalis

PROBOLINGGO, DetikNusantara.co.id – Anggaran perjalanan dinas Badan Pengelolaan Pendapatan, Keuangan dan Aset Daerah (BPPKAD) Kabupaten…

14 jam ago

EKO BUDIYANTO, S.H.: KAMI TIDAK HADIR UNTUK MENCARI MUSUH, TAPI UNTUK MEMPERJUANGKAN KEADILAN

BANYUWANGI - Direktur Regional NGO Pemburu Ketidakadilan, *Eko Budiyanto, S.H.*, menegaskan bahwa kehadiran organisasinya adalah…

14 jam ago

Suka Bikin Gaduh Partai, PPP Jember Minta Prabowo Evaluasi Mardiono dari UKP

Pada tahun 2022, Mardiono resmi menjabat Plt. Ketum PPP setelah kudeta atas kepemimpinan Suharso Monoarfa…

15 jam ago

Aliansi BEM Probolinggo Raya Laporkan Dugaan Pemblokiran Jalan Pantura ke Polres, Minta Penegakan Hukum Tanpa Tebang Pilih

PROBOLINGGO, DetikNusantara.co.id – Aliansi BEM Probolinggo Raya mendatangi Polres Probolinggo untuk melakukan audiensi sekaligus menyerahkan…

16 jam ago