LUMAJANG, DetikNusantara.co.id – Suasana penuh khidmat dan kebersamaan mewarnai peringatan Tahun Baru Islam 1 Muharam 1448 Hijriah atau yang dikenal masyarakat Jawa sebagai Bulan Suro di Desa Tumpeng, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Melalui tradisi Grebeg Tumpeng, warga memanjatkan doa bersama agar senantiasa diberikan keselamatan serta terhindar dari ancaman erupsi Gunung Semeru.
Tradisi budaya yang telah menjadi agenda tahunan tersebut digelar oleh Pemerintah Desa Tumpeng bersama masyarakat setempat, Sabtu (20/6/2026). Sebanyak 30 tumpeng berisi berbagai hasil bumi seperti ubi jalar, padi, jagung, tomat, dan aneka hasil pertanian lainnya diarak keliling desa sebelum dipusatkan di Lapangan Tumpeng.
Arak-arakan dimulai dari Dusun Tumpeng Wetan dan berlangsung meriah dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat. Perangkat desa, tokoh masyarakat, kelompok tani, hingga warga dari berbagai dusun turut ambil bagian dalam kegiatan yang sarat nilai budaya dan spiritual tersebut.
Kepala Desa Tumpeng, H. Deny, SH, mengatakan bahwa Grebeg Tumpeng tidak hanya menjadi sarana pelestarian tradisi leluhur, tetapi juga sebagai bentuk rasa syukur masyarakat atas hasil bumi yang diperoleh selama setahun terakhir.
“Acara ini merupakan wujud syukur masyarakat Desa Tumpeng sekaligus dalam rangka memeriahkan Tahun Baru Islam atau Bulan Suro yang selama ini menjadi tradisi masyarakat Jawa,” ujar H. Deny.
Menurutnya, momentum Tahun Baru Islam dimanfaatkan masyarakat untuk bermunajat dan memohon perlindungan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar desa mereka senantiasa diberikan keamanan, kesehatan, dan kesejahteraan.
Selain sebagai ungkapan syukur, kegiatan ini juga menjadi sarana doa bersama agar masyarakat terhindar dari berbagai musibah, khususnya ancaman erupsi Gunung Semeru. Mengingat letak geografis Desa Tumpeng yang berada di kawasan terdampak aktivitas vulkanik Semeru, keselamatan menjadi harapan utama yang terus dipanjatkan warga.
“Harapannya agar warga Desa Tumpeng diberikan keselamatan, kesehatan, rezeki yang berlimpah, serta hasil panen yang semakin meningkat,” kata H. Deny.
Ia menambahkan, masyarakat juga berharap aktivitas Gunung Semeru tetap terkendali sehingga tidak menimbulkan bencana yang dapat mengganggu kehidupan warga maupun sektor pertanian yang menjadi mata pencaharian utama masyarakat desa.
Antusiasme warga terlihat sejak awal hingga akhir kegiatan. Setelah prosesi arak-arakan selesai, masyarakat bersama-sama menikmati hasil bumi yang tersusun dalam tumpeng. Tradisi makan bersama tersebut menjadi simbol kebersamaan, gotong royong, serta rasa syukur atas limpahan rezeki yang diberikan.
Melalui Grebeg Tumpeng, masyarakat Desa Tumpeng tidak hanya menjaga warisan budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun, tetapi juga memperkuat persatuan dan solidaritas sosial di tengah perkembangan zaman yang semakin modern.
Tradisi tahunan ini diharapkan terus dilestarikan sebagai identitas budaya masyarakat Desa Tumpeng sekaligus menjadi media pemersatu warga dalam menjaga nilai-nilai kebersamaan, kearifan lokal, dan spiritualitas yang telah mengakar kuat di tengah kehidupan masyarakat lereng Semeru.













