Daerah

Jaga Ekosistem Bromo, Gubernur Khofifah Resmikan Ground Breaking Jalur Lingkar Kaldera Tengger

×

Jaga Ekosistem Bromo, Gubernur Khofifah Resmikan Ground Breaking Jalur Lingkar Kaldera Tengger

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

PROBOLINGGO, DetikNusantara.co.id – Gubernur Jawa Timur, Hj. Khofifah Indar Parawansa, secara resmi melakukan ground breaking pembangunan Jalur Lingkar Kaldera Tengger (JLKT) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Senin (13/4/2026). Proyek strategis ini dirancang untuk menyeimbangkan lonjakan wisatawan dengan pelestarian lingkungan serta kearifan lokal Suku Tengger.

Pembangunan jalur sepanjang 13 kilometer ini menjadi tonggak baru dalam pengelolaan wisata konservasi di Indonesia. Dalam pelaksanaannya, Gubernur Khofifah didampingi oleh Dirjen KSDAE Satyawan Pudyatmoko, Bupati Probolinggo dr. Mohammad Haris, dan Bupati Lumajang Indah Amperawati Masdar.

Gubernur Khofifah menegaskan bahwa JLKT bukan sekadar jalur transportasi, melainkan instrumen untuk menjaga daya dukung lingkungan. Beliau menekankan bahwa pembangunan di area sensitif ini tidak akan merusak karakter alami Bromo.

“JLKT adalah bagian penting dalam membangun harmoni antara pelestarian alam dan penguatan budaya lokal. Kita tidak melakukan pengaspalan masif; karakter alami kawasan harus tetap terjaga agar ekosistem tidak terganggu,” ujar Khofifah.

Beberapa poin utama dalam pembangunan JLKT meliputi:

  • Pembangunan Non-Aspal: Mengedepankan prinsip konservasi agar air tetap terserap ke tanah.
  • Sumur Resapan: Sebanyak 60 titik sumur resapan akan dibangun untuk menjaga stabilitas tata air.
  • Fasilitas Wisata: Penyediaan rest area dan toilet di tiga titik strategis serta empat kantong parkir untuk mengatur mobilitas pengunjung.

Selain jalur transportasi, Gubernur juga menandatangani prasasti sarana air bersih. Fasilitas ini memanfaatkan sumber mata air dari Pusung Jantur dan Widodaren dengan kapasitas masing-masing 12.000 liter. Kehadiran infrastruktur ini diharapkan mampu mengatasi kendala akses air bersih bagi warga lokal maupun wisatawan yang terus meningkat setiap tahunnya.

Bupati Probolinggo, dr. Mohammad Haris, menyambut positif langkah ini sebagai momentum transformasi Bromo. Menurutnya, Bromo bukan sekadar komoditas ekonomi, melainkan kawasan sakral bagi masyarakat Tengger.

“Kita tidak boleh hanya mengejar euforia keindahan alam. Keberlanjutan lingkungan, adat, dan budaya Suku Tengger adalah prioritas utama. JLKT akan menata itu semua,” tegas Gus Haris, sapaan akrabnya.

Tokoh adat Suku Tengger, Pandita Sutomo, turut hadir memberikan restu, memastikan bahwa titik-titik sakral di area kaldera tetap terlindungi dan dihormati selama proses pembangunan.

Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), Satyawan Pudyatmoko, menyatakan bahwa Bromo Tengger Semeru merupakan salah satu dari target prioritas pemerintah untuk menjadi taman nasional berkelas dunia.

“Dari 57 taman nasional di Indonesia, Bromo adalah salah satu yang diunggulkan. JLKT adalah strategi terintegrasi yang mencakup aspek ekologi, perlindungan flora-fauna, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat,” jelas Satyawan.

Dengan dimulainya pembangunan Jalur Lingkar Kaldera Tengger, Jawa Timur optimis dapat menghadirkan wajah baru pariwisata yang berkelanjutan sebuah kawasan di mana alam terjaga, budaya lestari, dan ekonomi rakyat terus bertumbuh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *