Kesehatan

Kasus Bronkitis Akut dan Pneumonia di Lumajang Meningkat, 70 Persen Pasien Anak

×

Kasus Bronkitis Akut dan Pneumonia di Lumajang Meningkat, 70 Persen Pasien Anak

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

LUMAJANG, DetikNusantara.co.id – Kasus infeksi saluran pernapasan di Kabupaten Lumajang mengalami peningkatan. RSUD dr. Haryoto Lumajang mencatat sekitar 150 kasus bronkitis akut dan pneumonia selama tiga minggu pertama September 2026.

Jumlah tersebut meningkat sekitar tiga kali lipat dibandingkan Agustus yang tercatat sekitar 50 kasus. Dari total pasien yang menjalani perawatan tersebut, sekitar 70 persen di antaranya merupakan anak-anak.

Peningkatan kasus ini menjadi perhatian di tengah kabar yang beredar di masyarakat mengenai dugaan meningkatnya kasus influenza tipe A di Lumajang. Namun, RSUD dr. Haryoto hingga kini belum dapat memastikan apakah pasien yang mengalami infeksi saluran pernapasan tersebut terinfeksi influenza tipe A.

Kabid Pelayanan Medis RSUD dr. Haryoto Lumajang, Hj. dr. Yana Susanti, Sp.KFR, menjelaskan bahwa untuk memastikan seseorang terinfeksi influenza tipe A diperlukan pemeriksaan khusus.

Menurutnya, pemeriksaan tersebut belum tersedia di RSUD dr. Haryoto yang merupakan rumah sakit tipe B.

“Kalau influenza tipe A itu untuk penegakan diagnosisnya ada pemeriksaan-pemeriksaan yang di kita tidak ada. Di rumah sakit tipe B itu tidak ada, adanya mungkin di rumah sakit tipe A,” ujar dr. Yana.

Meski belum dapat memastikan adanya influenza tipe A, RSUD dr. Haryoto melihat adanya peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan, baik pada saluran pernapasan bagian atas maupun bagian bawah.

Untuk infeksi saluran pernapasan bagian bawah, kasus yang banyak ditemukan antara lain bronkitis akut dan pneumonia atau infeksi yang menyerang paru-paru.

“Yang jelas gambaran yang tampak di Rumah Sakit Umum Haryoto Lumajang adalah infeksi pada saluran pernapasan, baik yang di atas maupun yang di bawah,” jelasnya.

Berdasarkan data pasien rawat inap, kasus bronkitis akut dan pneumonia mengalami peningkatan cukup signifikan pada September 2026.

Selama tiga minggu pertama September, tercatat sekitar 150 kasus bronkitis akut dan pneumonia. Sementara sepanjang Agustus, jumlah kasus berada di kisaran 50 kasus.

“Data rawat inap selama tiga minggu di bulan September ini ada sekitar 150-an kasus bronkitis akut dan pneumonia, jadi infeksi pada paru-paru. Kalau bulan Agustus kemarin kurang lebih 50-an kasus. Jadi artinya meningkat tiga kali lipat,” kata dr. Yana.

Yang menjadi perhatian, sekitar 70 persen pasien yang mengalami infeksi tersebut merupakan anak-anak.

Menurut dr. Yana, gejala awal bronkitis maupun pneumonia dapat menyerupai influenza pada umumnya. Namun, ketika infeksi berkembang dan menyerang saluran pernapasan bagian bawah hingga paru-paru, pasien dapat mengalami gangguan pernapasan seperti sesak napas.

“Kebanyakan gejala awalnya hampir sama dengan influenza seperti biasanya. Cuma karena infeksinya sampai di paru-paru, sehingga muncul gangguan sesak napas. Sehingga pasien minta pertolongan di rumah sakit,” terangnya.

Mengantisipasi meningkatnya kasus infeksi saluran pernapasan, masyarakat diimbau menjaga daya tahan tubuh dan menerapkan pola hidup sehat.

Upaya tersebut dapat dilakukan dengan mengonsumsi makanan bergizi, berolahraga secara teratur, rajin mencuci tangan, serta menggunakan masker, terutama saat berada di tempat ramai.

Masker juga dianjurkan digunakan ketika seseorang mengalami gejala gangguan pernapasan untuk membantu mengurangi risiko penularan kepada orang lain.

Masyarakat juga diminta tidak langsung menyimpulkan bahwa gejala infeksi saluran pernapasan yang dialami merupakan influenza tipe A.

Diagnosis influenza tipe A perlu dipastikan melalui pemeriksaan medis yang sesuai. Dengan demikian, masyarakat dapat memperoleh penanganan yang tepat berdasarkan kondisi kesehatan yang dialami.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *