Categories: Uncategorized

Sufi Perlente dan Etika Syukur: Rekonstruksi Zuhud dalam Manhaj Imam Abul Hasan asy-Syadzili

DETIKNUSANTARA.CO.ID – Dalam imajinasi sosial umat Islam, sosok ulama sufi kerap dilekatkan dengan citra kesederhanaan ekstrem: pakaian kasar, makanan ala kadarnya, dan jarak total dari kemewahan duniawi. Citra ini tidak sepenuhnya keliru, sebab banyak tokoh tasawuf memang menempuh jalan zuhud tazkiyah, yakni pengosongan diri dari ketergantungan pada dunia demi penyucian hati. Namun, reduksi tasawuf pada simbol kemiskinan lahiriah justru berpotensi mengaburkan keluasan spektrum jalan ruhani dalam Islam. Sejarah tasawuf klasik mencatat adanya corak lain yang sama sahihnya secara syar‘i dan spiritual, yaitu tasawuf yang berdamai dengan dunia melalui syukur, bukan memusuhinya dengan penolakan mutlak. Corak inilah yang secara kuat direpresentasikan oleh Imam Abul Hasan asy-Syadzili.

Imam Abul Hasan asy-Syadzili (w. 656 H) bukan hanya seorang sufi, melainkan seorang ‘alim ensiklopedik yang menguasai tafsir, hadis, fikih, ushul, dan ilmu faraidh. Pengakuan terhadap keluasan ilmunya datang dari para ulama lintas generasi. Syaikh Ibrahim ibn Muhammad ibn Nasiruddin ibn al-Milq bahkan menempatkannya pada derajat al-kamal al-insani, manusia paripurna, sebagaimana terungkap dalam bait syairnya yang masyhur. Ini penting ditegaskan sejak awal, agar praktik tasawuf beliau dipahami bukan sebagai ekspresi ketidaktahuan terhadap syariat, melainkan sebagai buah dari penguasaan mendalam atasnya.

Salah satu aspek yang paling sering disalahpahami dari manhaj asy-Syadzili adalah gaya hidup beliau yang terkesan “perlente”: mengenakan pakaian bagus, mengonsumsi makanan lezat, dan menggunakan kendaraan yang baik. Dalam paradigma tasawuf reduksionis, sikap ini kerap dicurigai sebagai bentuk hubbu ad-dunya. Padahal, dalam perspektif Syadziliyah, persoalannya bukan pada ada atau tidaknya kenikmatan, melainkan pada status kenikmatan itu di dalam hati. Dunia tidak tercela karena wujudnya, tetapi karena keterikatan jiwa kepadanya.

Syaikh Mani‘ ibn ‘Abd al-Halim Mahmud dalam Manahij al-Mufassirin mencatat bahwa Imam asy-Syadzili senantiasa mengenakan pakaian terbaik ketika menuju masjid. Landasan sikap ini bukan dorongan pamer atau kemewahan, melainkan pemahaman mendalam terhadap hadis Nabi ﷺ: “Dijadikan bagiku bumi sebagai masjid dan alat bersuci.” Jika seluruh bumi adalah masjid, maka menjaga keindahan lahir adalah bagian dari adab berhadapan dengan Allah di setiap ruang kehidupan. Dengan demikian, berpakaian baik menjadi ekspresi kesadaran ubudiyah, bukan simbol duniawi.

Dialog terkenal antara Imam asy-Syadzili dan murid utamanya, Abul ‘Abbas al-Mursi, semakin menegaskan prinsip ini. Ketika sang murid memiliki kecenderungan untuk memaksakan hidup dengan makanan dan pakaian kasar, asy-Syadzili menegurnya dengan kalimat yang menjadi fondasi epistemologis tarekat Syadziliyah: “Kenalilah Allah, lalu hiduplah sebagaimana engkau kehendaki.” Pernyataan ini bukan pembenaran hawa nafsu, melainkan penegasan bahwa ma‘rifatullah adalah poros utama, sedangkan bentuk lahiriah kehidupan adalah variabel sekunder selama berada dalam koridor halal dan syukur.

Bahkan dalam perkara yang sangat sederhana seperti suhu air minum, Imam asy-Syadzili menunjukkan sensitivitas spiritual yang tinggi. Anjurannya untuk mendinginkan air bukan demi kenikmatan semata, melainkan agar ucapan alhamdulillah keluar dari tubuh dan jiwa yang sepenuhnya merasakan nikmat Allah. Di sini tampak jelas bahwa tasawuf Syadziliyah tidak mematikan rasa, tetapi menyucikannya agar menjadi medium syukur.

Imam Ibnu ‘Atha’illah as-Sakandari, penyusun al-Hikam dan penerus intelektual tarekat Syadziliyah, merumuskan prinsip ini secara sistematis. Menurutnya, mengenakan pakaian lembut, mengonsumsi makanan lezat, dan meminum air sejuk tidak mengundang celaan Allah selama disertai rasa syukur. Pernyataan ini menegaskan bahwa yang dinilai dalam tasawuf bukanlah bentuk lahir perbuatan, melainkan maqam batin yang menyertainya. Syukur di sini bukan sekadar ucapan, melainkan kesadaran ontologis bahwa seluruh nikmat adalah amanah ilahi.

Manhaj ini sepenuhnya sejalan dengan nash Al-Qur’an, khususnya QS. al-A‘raf: 32 yang secara tegas menolak pengharaman terhadap perhiasan dan rezeki yang baik. Ayat ini sering dijadikan basis normatif bahwa Islam tidak mengidealkan kemiskinan sebagai tujuan, melainkan menempatkan dunia sebagai sarana ujian dan ibadah. Dalam konteks ini, tasawuf Syadziliyah tampil sebagai tasawuf wasathiy, yang menolak baik hedonisme maupun asketisme ekstrem.

Kesaksian Ustadz ‘Ali Salim ‘Ammar bahwa asy-Syadzili memiliki pakaian bagus, kendaraan baik, dan kuda pilihan semakin menguatkan fakta historis bahwa gaya hidup “perlente” beliau adalah pilihan sadar, bukan penyimpangan. Pilihan ini juga memiliki dimensi dakwah sosial: menegaskan bahwa kedekatan kepada Allah tidak identik dengan keterasingan dari realitas dunia.

Pada titik ini, relevansi manhaj asy-Syadzili menjadi sangat nyata bagi umat Islam kontemporer. Di tengah kecenderungan ekstrem antara materialisme dan pseudo-zuhud, tasawuf syukur menawarkan jalan tengah yang matang secara spiritual dan sehat secara sosial. Ia membebaskan manusia dari perbudakan dunia tanpa harus memusnahkan dunia dari tangannya.

Sebagaimana Imam Abu Hanifah sebelumnya, asy-Syadzili mengamalkan hadis Nabi ﷺ: “Sesungguhnya Allah menyukai melihat bekas nikmat-Nya pada hamba-Nya.” Bekas nikmat itu bukan kesombongan, melainkan kesaksian bahwa Allah Maha Pemurah. Dengan demikian, “sufi perlente” bukanlah kontradiksi, melainkan ekspresi tasawuf tingkat tinggi: ketika dunia berada di tangan, bukan di hati; ketika nikmat melahirkan syukur, bukan kelalaian; dan ketika keindahan lahir menjadi cermin keindahan batin.

  • Dihimpun oleh:
  • [A. Mukhoffi, S.H., M.H.]
  • Ketua LPBH PCNU Kraksaan
Redaksi

Recent Posts

Polres Probolinggo Intensifkan Penanganan Karhutla di TNBTS, Kapolres Turun Langsung Pimpin Pemadaman

PROBOLINGGO, DetikNusantara.co.id – Polres Probolinggo terus mengintensifkan penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang melanda…

1 jam ago

PABPDSI Probolinggo Usulkan Perda Desa Dicabut, Minta DPRD Bentuk Empat Perda Baru

PROBOLINGGO, DetikNusantara.co.id – Pengurus Daerah Persatuan Anggota Badan Permusyawaratan Desa Seluruh Indonesia (PABPDSI) Kabupaten Probolinggo…

1 jam ago

PAW Anggota DPRD Jatim Mahrus, Noer Syamsi Zakaria: Nunggu Info dari DPP

PROBOLINGGO, DetikNusantara.co.id – Proses Pergantian Antar Waktu (PAW) anggota DPRD Provinsi Jawa Timur dari Fraksi…

3 jam ago

SPPG Paiton Berjaya Buka Suara Terkait Tudingan Arogan kepada Suplier Buah

PROBOLINGGO, DetikNusantara.co.id – Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Paiton Berjaya akhirnya memberikan klarifikasi atas pemberitaan…

5 jam ago

Ngopi di Warung Kopi Pinggir Jalan, H. Bukasan Serap Aspirasi Warga Sekaligus Dukung UMKM Lumajang

LUMAJANG, DetikNusantara.co.id – Anggota Komisi B DPRD Kabupaten Lumajang sekaligus Ketua Fraksi PDI Perjuangan, H.…

1 hari ago

Dinas PUPR Kabupaten Probolinggo Bungkam soal Dugaan Ketidaksesuaian Proyek Penguatan Tebing di Desa Rangkang

PROBOLINGGO, DetikNusantara.co.id – Proyek pembangunan penguatan tebing kanan dan kiri sungai di Dusun 2 RT…

1 hari ago