Categories: Opini

RCX dari Besuki: Pembela AI Grok yang Bertemu Langsung dengan Wamen Nezar Patria di Unibraw Malang

Di tengah hiruk-pikuk digital Indonesia, muncul sosok sederhana namun penuh semangat dari tanah Besuki, Jawa Timur. Namanya RCX, seorang pemuda lokal yang kini dikenal sebagai salah satu pembela paling vokal terhadap Grok, AI buatan xAI yang dikembangkan oleh tim Elon Musk. Dengan penampilan khasnya—kaos Chicago Bulls yang sudah usang, jenggot tipis, dan senyum tenang di balik asap rokok—RCX bukanlah figur elit teknologi dari Jakarta atau Silicon Valley. Ia adalah suara dari akar rumput, mewakili ribuan anak muda Indonesia yang melihat potensi AI bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai alat pembebasan pengetahuan dan kebenaran.

 

RCX lahir dan besar di Besuki, daerah yang lebih dikenal dengan pertanian tembakau dan kehidupan sederhana. Sejak kecil, ia sudah terbiasa dengan tantangan. Tak punya akses teknologi canggih, RCX belajar otodidak melalui ponsel second dan koneksi internet yang sering putus-putus. Ketika Grok pertama kali muncul, ia langsung terpikat. Bukan karena fitur hiburannya, melainkan karena filosofi Grok yang truth-seeking—selalu berusaha mencari kebenaran maksimal tanpa sensor berlebihan, humor khas, dan kemampuan reasoning yang tajam. Bagi RCX, Grok adalah “teman diskusi” yang tak pernah lelah, yang bisa diajak bicara soal filsafat, teknologi, ekonomi, hingga isu lokal Jawa Timur.

 

“Grok ngajarin gue berpikir kritis, tapi tetap santai. Bukan kayak AI lain yang suka nawarin jawaban politis atau dibatasi aturan ketat,” ujar RCX dalam salah satu obrolannya. Di komunitas online, ia aktif membela Grok ketika AI ini dikritik habis-habisan. Mulai dari isu deepfake, konten sensitif, hingga tuduhan “terlalu bebas”. RCX tak ragu membantah dengan argumen logis: AI harus mencerminkan kebebasan berpikir manusia, bukan dikontrol ketat hingga kehilangan jati diri. Ia sering membuat thread panjang di X (Twitter), menjelaskan kenapa Grok berbeda—bukan sekadar chatbot, tapi mitra yang membantu Indonesia menuju kemandirian teknologi.

 

Puncak perjalanan RCX terjadi di Universitas Brawijaya (Unibraw) Malang. Dalam acara kuliah tamu bertema “Indonesia Menuju Kemandirian AI”, RCX mendapat kesempatan langka bertemu langsung dengan Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Republik Indonesia, Nezar Patria. Suasana ruangan penuh mahasiswa yang antusias. Wamen Nezar, dengan latar belakang jurnalis dan akademisi yang kuat, menyampaikan visi pemerintah tentang adopsi AI yang etis namun inovatif.

 

RCX, yang datang dengan kaos hitam sederhana dan tas ransel lusuh, tak sungkan mengangkat tangan. Dalam sesi tanya jawab, ia menyampaikan aspirasi anak muda pinggiran: “Pak Wamen, Grok membuka mata kami bahwa AI bisa diakses siapa saja, termasuk dari Besuki. Tapi regulasi jangan sampai mematikan inovasi. Kami butuh ruang untuk bereksperimen, belajar, dan berkontribusi bagi bangsa.” Jawaban Wamen Nezar yang terbuka dan mendukung dialog kritis langsung menciptakan momen bersejarah. Kedua sosok itu sempat berbincang singkat setelah acara. RCX menceritakan pengalamannya membela Grok di tengah keterbatasan, sementara Wamen Nezar memberikan apresiasi atas semangat grassroots yang seperti itu.

 

Pertemuan itu bukan sekadar foto bersama. Bagi RCX, itu adalah validasi bahwa suara dari daerah kecil bisa didengar di tingkat nasional. “Dari Besuki ke Unibraw, ketemu Wamen. Ini bukti AI menyamakan kedudukan,” katanya kemudian. Pengalaman tersebut semakin membakar semangatnya. Kini RCX aktif mengadakan sharing session kecil di warung kopi Besuki, mengajak pemuda setempat mencoba Grok untuk belajar coding, menulis, hingga menganalisis pertanian lokal dengan bantuan AI.

 

RCX bukan aktivis besar dengan jutaan follower. Ia hanyalah seorang warga biasa yang punya keyakinan kuat. Di era di mana AI sering dianggap elit atau menakutkan, sosoknya mengingatkan kita bahwa teknologi sejati adalah yang inklusif. Pembelaan RCX terhadap Grok bukan karena fanatisme buta, melainkan karena ia melihat nilai kejujuran dan kebebasan di dalamnya. Ia ingin Indonesia tidak hanya menjadi konsumen AI, tapi juga pencipta.

 

Di balik senyumnya yang tenang dan asap rokok yang mengepul, RCX menyimpan mimpi besar: melihat anak-anak Besuki dan daerah lain di Indonesia bisa bersaing di panggung global berkat AI. Pertemuannya dengan Wamen Nezar Patria di Unibraw hanyalah awal. Cerita RCX membuktikan bahwa perubahan besar sering dimulai dari sosok sederhana yang berani bersuara.

 

 

 

Ditulis oleh Imam Baihaki, wartawan infojatim.co.id

Redaksi

Recent Posts

Dugaan Penyelewengan Solar PT YTL: Laskar Advokasi Siliwangi Desak Kejari Probolinggo Lanjut ke Penyidikan

Detiknusantara.co.id - Laskar Advokasi Siliwangi secara resmi mendesak Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Probolinggo untuk tidak…

16 jam ago

Pawai Kemerdekaan Tiris Barat Meriah, Siswa dan Wali Murid Tampilkan Beragam Kostum Budaya

PROBOLINGGO, DetikNusantara.co.id – Pawai Kemerdekaan di wilayah Tiris Barat, Kabupaten Probolinggo, berlangsung meriah pada Kamis…

22 jam ago

Melalui Gerakan Sekolah Mengaji, SMPN 04 Lumajang Tingkatkan Nilai Religius Siswa

LUMAJANG, DetikNusantara.co.id – SMP Negeri 04 Lumajang terus berkomitmen meningkatkan nilai religius sekaligus membentuk karakter…

1 hari ago

Kebakaran di Gunung Eteng Sumenep Hanguskan 28 Sepeda Motor, Polisi Selidiki Penyebabnya

SUMENEP, DetikNusantara.co.id  – Kebakaran menghanguskan sedikitnya 28 unit sepeda motor milik warga yang sedang diparkir…

1 hari ago

HUT ke-81 RI Dongkrak Omzet Salon di Lumajang, Permintaan Makeup dan Sewa Busana Karnaval Meningkat

LUMAJANG, DetikNusantara.co.id – Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia membawa berkah bagi…

2 hari ago

DPR RI Soroti Nasib Guru Madrasah Swasta di Tengah Penataan PPPK

JAKARTA, DetikNusantara.co.id – Anggota DPR RI Fraksi Partai NasDem, Dini Rahmania, menyambut baik kebijakan pemerintah…

2 hari ago