Categories: Hukum

Bapenda dan Kemandirian Fiskal Kab. Probolinggo: Kebutuhan, Bukan Sekadar Opsi

Probolinggo, detiknusantara.co.id – Dorongan oleh anggota Komisi I DPRD Kab. Probolinggo terkait pembentukan Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) di Kabupaten Probolinggo pada dasarnya tidak dapat semata-mata dipandang sebagai kebijakan administratif biasa. Secara teoritik dan normatif, usulan tersebut merupakan wujud konkret penerapan asas-asas fundamental dalam hukum pemerintahan daerah, terutama asas efektivitas penyelenggaraan urusan pemerintahan, asas akuntabilitas, serta asas pembagian fungsi (division of function) antara pengelola pendapatan dan pengelola belanja daerah.

Pertama, dalam kerangka Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, negara menempatkan pemerintah daerah sebagai subjek hukum yang diberi kewenangan luas untuk menata organisasinya sendiri. Doktrin freies ermessen memberikan ruang bagi pemerintah daerah untuk menentukan bentuk dan susunan perangkat yang paling tepat dalam rangka mewujudkan tujuan pemerintahan yang efektif. Ketika potensi PAD Kabupaten Probolinggo sangat besar namun tidak termaksimalkan, secara ilmiah dapat disimpulkan bahwa struktur eksisting tidak lagi memadai menampung beban urusan tersebut. Pemisahan fungsi pendapatan menjadi Bapenda merupakan koreksi struktural yang sejalan dengan prinsip right sizing bureaucracy.

Kedua, teori klasik administrasi keuangan publik menegaskan bahwa fungsi revenue collecting dan expenditure controlling tidak semestinya berada di bawah satu atap organisasi. Dalam perspektif hukum keuangan negara, penyatuan fungsi pendapatan dan belanja berpotensi menciptakan conflict of interest, mengurangi akurasi evaluasi kinerja, dan memperlemah mekanisme kontrol. Oleh karena itu, pembentukan Bapenda tidak hanya memenuhi pertimbangan efisiensi, tetapi menjadi syarat normatif untuk mengokohkan asas checks and balances di lingkungan pemerintah daerah.

Ketiga, dari perspektif hukum administrasi, alasan bahwa pembentukan Bapenda “masih dalam kajian” harus dibaca secara kritis. Apabila Bagian Hukum dan Bagian Organisasi telah menyelesaikan harmonisasi dan analisis kebutuhan organisatoris, maka terus mempertahankan status kajian tanpa progres yang jelas dapat dikategorikan sebagai bentuk maladministrasi berupa penundaan berlarut (unreasonable delay). Secara teoritik, discretion pemerintah tidak boleh digunakan untuk menghambat pelayanan publik ataupun menunda langkah yang secara hukum telah memenuhi seluruh prasyarat administratif.

Keempat, argumentasi kebijakan yang diajukan DPRD bahwa pembentukan Bapenda berpotensi meningkatkan optimalisasi PAD merupakan data yang relevan dari sisi teori administrasi publik. Optimalisasi PAD pada dasarnya membutuhkan institusi yang memiliki fokus tunggal, jaringan kerja teknis, serta kapasitas pengawasan lapangan yang memadai, sesuatu yang sulit dicapai apabila fungsi pendapatan hanya menjadi salah satu bidang dari OPD dengan tugas rangkap.

Kelima, penting dipahami bahwa ketergantungan daerah terhadap dana transfer pusat adalah persoalan struktural yang tidak dapat dijawab oleh pendekatan birokrasi yang pasif. Pembentukan Bapenda justru menjadi instrumen untuk menghadirkan kemandirian fiskal daerah (fiscal autonomy), sebuah konsep yang dalam teori desentralisasi merupakan indikator utama keberhasilan otonomi daerah. Tanpa kemandirian fiskal, otonomi hanya menjadi formalitas, bukan realitas.

Dengan demikian, dapat ditegaskan bahwa pembentukan Bapenda bukanlah opsi tambahan, melainkan kebutuhan yuridis-administratif yang bertujuan memperbaiki kualitas tata kelola pendapatan daerah, meningkatkan kapasitas fiskal, serta menegakkan prinsip pemerintahan yang baik. Penundaan tanpa dasar objektif akan bertentangan dengan asas penyelenggaraan pemerintahan yang efektif dan akuntabel, serta pada akhirnya dapat merugikan kepentingan publik yang justru menjadi dasar legitimasi pemerintah daerah.

 

Redaksi

Recent Posts

Klaim Anggaran Perjalanan Dinas BPPKAD “Kecil” Dikecam, LSM AMPP: Tidak Rasional dan Melukai Keadilan

PROBOLINGGO, DetikNusantara.co.id – Dalih efisiensi dan tingginya mobilitas yang dilontarkan Badan Pengelolaan Pendapatan, Keuangan, dan…

20 jam ago

Khofifah Salurkan Bantuan Rp19,6 Miliar untuk Kabupaten Probolinggo, Pemberdayaan Ekonomi hingga Infrastruktur

PROBOLINGGO, DetikNusantara.co.id – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyalurkan berbagai bantuan sosial dan program…

1 hari ago

Hujan Deras di Kawasan Semeru, Bunda Indah Imbau Penambang Hentikan Aktivitas Sementara

LUMAJANG, DetikNusantara.co.id – Bupati Lumajang, Indah Amperawati atau yang akrab disapa Bunda Indah, mengimbau seluruh…

2 hari ago

PSI Probolinggo Soroti Anggaran Perjalanan Dinas BPPKAD Rp467,79 Juta, Singgung Perlindungan Jurnalis

PROBOLINGGO, DetikNusantara.co.id – Anggaran perjalanan dinas Badan Pengelolaan Pendapatan, Keuangan dan Aset Daerah (BPPKAD) Kabupaten…

2 hari ago

EKO BUDIYANTO, S.H.: KAMI TIDAK HADIR UNTUK MENCARI MUSUH, TAPI UNTUK MEMPERJUANGKAN KEADILAN

BANYUWANGI - Direktur Regional NGO Pemburu Ketidakadilan, *Eko Budiyanto, S.H.*, menegaskan bahwa kehadiran organisasinya adalah…

2 hari ago

Suka Bikin Gaduh Partai, PPP Jember Minta Prabowo Evaluasi Mardiono dari UKP

Pada tahun 2022, Mardiono resmi menjabat Plt. Ketum PPP setelah kudeta atas kepemimpinan Suharso Monoarfa…

2 hari ago